Ada apa dengan kata-kata
dan kalimatmu?
Seperti tendangan
yang berhasil membuat mataku bocor. Lalu tiba-tiba air dari bola mataku tumpah
ruah. Kita memang selalu begitukan, dek?
Mengandalkan mata
hanya untuk melarikan diri sejenak saja.
Sore ini dalam kalimatmu.
Aku melahap semua kue-kue di berandamu. Tapi ada satu jenis kue yang membuatku
tersedak. Beberapa teguk aku coba masukkan dalam tenggorokan, air yang yang
kuminum dari mata air mata. Asin. Tak cukup mampu membelesakkan kuemu. Bagaimana
ini? Tak mampu aku tahan sebab selalu melawan arah nafasku.
Baiklah.
Tenanglah. Atur nafasmu pelan-pelan
Aku hanya ingin
bilang. Kau, adikku paling nakal. Kau sudah lupa ingatan rupanya, bahwa dulu,
di kamar 3x2,5 meter yang pengap dan berbau kau pernah menasehatiku. Untuk pulang
dan berkhidmat.
Kau tak sadar?
Hari ini kau jauh
sekali.
Jauh….
Bahkan hampir tak
mungkin kakiku bertandang menjengukmu.
Aku juga hanya ingin
bilang, jika urusanmu telah selesai. Pulanglah, dek! Jangan main jauh-jauh.
Tanamlah akar di
rahim perkampungan yang pernah melahirkanmu.
-Pada
sudut mata yang menyipit
Bima, 12 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar