Sabtu, 12 April 2014

Jangan Jauh-jauh, Dek!




Ada apa dengan kata-kata dan kalimatmu?

Seperti tendangan yang berhasil membuat mataku bocor. Lalu tiba-tiba air dari bola mataku tumpah ruah. Kita memang selalu begitukan, dek?

Mengandalkan mata hanya untuk melarikan diri sejenak saja.

Sore ini dalam kalimatmu. Aku melahap semua kue-kue di berandamu. Tapi ada satu jenis kue yang membuatku tersedak. Beberapa teguk aku coba masukkan dalam tenggorokan, air yang yang kuminum dari mata air mata. Asin. Tak cukup mampu membelesakkan kuemu. Bagaimana ini? Tak mampu aku tahan sebab selalu melawan arah nafasku.

Baiklah. Tenanglah. Atur nafasmu pelan-pelan

Aku hanya ingin bilang. Kau, adikku paling nakal. Kau sudah lupa ingatan rupanya, bahwa dulu, di kamar 3x2,5 meter yang pengap dan berbau kau pernah menasehatiku. Untuk pulang dan berkhidmat.

Kau tak sadar?

Hari ini kau jauh sekali.

Jauh….

Bahkan hampir tak mungkin kakiku bertandang menjengukmu.
Aku juga hanya ingin bilang, jika urusanmu telah selesai. Pulanglah, dek! Jangan main  jauh-jauh.
Tanamlah akar di rahim perkampungan yang pernah melahirkanmu.

-Pada sudut mata yang menyipit
Bima, 12 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar