3
malam bersilang sengketa dengan lembaran soal TPA (Test Potensi Akademik) yang
saya cetak dari si Canon itu membuat saya kembali akrab dengan Matematika. Si ilmu
mati-matian. Meski soal-soal yang ditawarkan adalah soal-soal yang terbilang
gampang bagi sebagian orang, namun bagi saya cukup menguras energi. Dulu, semasa di sekolahan, saya bukan
termasuk golongan murid yang pandai Matematika, tak heran di rapor nilai Matematika
saya pas-pasan. Saya cuma mengerti hitung-hitungan sederhana, sedangkan menafsirkan
sebuah cerita ke dalam bentuk persamaan Matematika saya bisa ngos-ngosan.
Tersebutlah
satu soal Aritmetika, begini tulisannya (perhatikan jawaban soal nomor 18) :
Yang
ada dalam memori saya, lambang tepat di depan kurung itu adalah Phi dengan
ketetapan nilai 3,14 atau 22/7. Maka jika diselesaikan soal itu akan begini :
3,14x5041=15,828
Pilihan
jawaban yang disediakan dari A-E berturut-turut adalah 61, 71, 81, 91, dan 51.
Sayang sekali jawaban dari hitungan saya tak muncul pada pilihan yang tersedia.
Saya memutar otak, mencoba berspekulasi dan mengkambinghitamkan soal. Jangan-jangan
soalnya salah.
Berhari-hari
saya mengulang soal tersebut setiap malam menjelang tidur. Rasa penasaran kini
berubah menjadi rasa kesal yang memuncak. Padahal telah jelas, rumus umum dalam
mengerjakan soal-soal TPA adalah “jika tidak bisa, tinggalkan!”.
Akhirnya,
saya menyerah. Saya mengirim pesan pendek pada seseorang nun di seberang lautan.
Saya menceritakan perihal soalnya. Awalnya guru saya ini seperti lambat
merespon. Mungkin karena kesibukan beliau.
Waktu
berdenting, dimulailah obrolan tentang pembahasan soal. ya, walaupun mata saya
rada sepat, saya berusaha untuk membaca dengan penuh semangat balasan pesan
yang saya kirim beberapa jam yang lalu. Berikut pesan beliau :
Baca baik-baik soalnya.
Iya,
udah kak.
Diliatin kemudian ambil balpoin dan buku
Iya,
udah.
Soalnya dipelototin, benar gak nih?
Bentuk soalnya seperti itu?
Iya,
soalnya malah dipegang nih.
Di depan itu bukan tanda phi, melainkan
akar.
(Glek!
Muka kusut, kening berkerut) (pelan-pelan saya cair, mata melotot memperhatikan
lambang phi yang sedang catwalk di
depan tanda kurung. Saya tertawa terpingkal-pingkal. Hei, bagaimana mungkin
tanda phi yang berlenggang manis itu seketika berubah menjadi akar?!)
Nah, seandainya tertulis tanda phi,
bolehlah, soal itu berarti salah tulis, tapi tugas kamu adalah menyesuaikan.
Kira-kira hasil soal itu masuk akal gak? Dengan soal tersebut, kesimpulannya soal-soal
psikotes membantu kita cepat berpikir.
Secepat
Yamaha saya menghitung. Oh..oh…ternyata akar dari 5041 itu adalah 71. Saya
melirik kunci jawaban, benar, jawabannya 71. Dalam hati saya cekikikan.
Kalau phi itu kadang di keterangan soalnya
langsung ditulis 3,14
Hahaha,
iya kak, dapat hasilnya nih.
Adek, kalau liat tanda phi sebenarnya
masih ngambang. Atau sekalipun kamu yakin itu adalah tanda phi yang bernilai
3,14 atau soalnya tidak kau temukan jawabannya, maka tugasmu oret-oret
jawabannya. Kan itu ada pilihan..sampai 5. Apa tadi 51, 61, 71, 81, 91. Tugas
adek semua jawabannya adek tambahin, kaliin, bagiin. Dan itu cepat mendapatkan
jawaban. Adek disuruh lebih agresif dalam berpikir alias menghitung
(membaca
dengan khusyuk)
Matematika dasar itu mudah sekali jika
kita ikut mengotak atiknya
Jawabannya, jadi gak harus monoton liat
soal.
(Seketika
saya tergelak. Hihihi, kemana aja kamu Em!)
Berkat
penjelasan itu, saya mampu menyelesaikan soal yang serupa pada nomor soal yang
berbeda. Ah, senangnya luar biasa!
Hikmah
dari obrolan Matematika itu, saya jadi berkesimpulan, jika tes potensi akademik
adalah salah satu tes yang sering digunakan untuk mengukur tingkat intelengensi
seseorang, maka bolehlah saya mengatakan bahwa intelegensi itu bisa di up-grade dengan sering berlatih dan membaca.
Tingkat intelegensi sama sekali tidak berbanding lurus dengan kesuksesan
seseorang. Nah, udah dapat pencerahan belum nih? iya…kamu yang lagi baca
tulisan ini. Semoga bermanfaat yah^^
Februari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar