Di luar masih gelap, peralihan dari
subuh ke pagi mendadak dipenuhi rinai hujan. Aku kira hanya embun, tapi tidak!
Embun tak pernah lebat, bukan?
Dingin yang sedari tadi membuat kaki
harus terlipat rapat dalam kain sarung, perlahan-lahan terusir oleh sebuah
nasehat manis yang menghangatkan “tak ada yang mampu mengalahkan fokus!”
Katanya, kalimat itu telah membuatnya
mencicip kesuksesan terlebih dahulu, yah, lebih dahulu dari pada aku.
Aku telah sukses????
Menurutmu sukses itu apa?
Apa yang harus aku lakukan agar aku
bisa sukses?
Apakah sukses itu berarti fokus?
“Lalu bagiamana caranya agar aku bisa fokus?”
tanyaku membuat ia gusar, tapi masih selalu saja bernasehat pelan dan lembut.
“kau harus punya tujuan” balasnya
tegas.
Memang, selama ini aku masih saja
mengandalkan satu rumus yang paling sepuh diantara sekian banyak rumus yang aku
pakai “aku akan mengikuti ujian, berharap lulus, namun kurang menguatkan
tujuan. Barangkali sekedar memeriahkan hari-hari yang pelan-pelan sepi, pengisi
jeda waktu saja.”
Bukan hanya itu, ketidakadaan tujuan
membuat aku semakin blingsatan, liar tak terkendali. Semakin banyak maunya tapi
entah yang mana harus aku maksimalkan. Istilah moyangku, terlalu rakus. Banyaknya
keinginan membuat aku bingung menentukan skala prioritas.
Tak pernah aku seberani ini, berani
itu adalah saat aku harus kembali dan berkemul dengan waktu-waktu kemarin.
Sebuah titik waktu dimana semuanya terlihat hanya seperti kabut tebal yang
menghalangi pandangan ke jalan setapak jauh di depan mata. Siapapun, aku kira
akan ketakutan saat ia tak memegang lentera saat berjalan. Lentera api tak ada,
lentera jiwa dan hati tak ada. Kita akan kesasar!
Baiklah, aku ingin belajar abai dengan
titik waktu itu. Menganggap bahwa semuanya hanyalah sebuah puncak dari sebuah
kurva kehidupan. Sebuah titik di mana semua manusia akan merasainya. Tak peduli
ia Aristokrat atau rakyat jelata, proletar!
Addendum, lampiran tulisan ini semoga menjadi
pengingat.
Medio Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar