Rabu, 09 April 2014

Fisi




Ini tentang satu keluarga nun di seberang lautan. Ayahnya adalah seorang laki-laki berbadan kekar dengan tombak terpancang, terselip pada pinggangnya. Tombak itu bukan untuk berburu. Hanya dipakai untuk menakuti sang bocah laki-lakinya saja. Istrinya seorang wanita yang patuh. Ia bagai pembantu di rumahnya sendiri sekaligus seperti selir yang melayani rajanya, di rumahnya sendiri. Setiap saat akan makan, keluarga ini melewatinya penuh khidmat. Laki-laki selalu makan duluan, sedang anak-anak dan istri makan belakangan, mereka hanya boleh makan saat para laki-laki pemimpin ini telah kenyang dan menyimpankan sisa-sisa makanan untuk anak juga isterinya.

Tetangga sebelah kanannya pun sama, tetangga sebelah kirinya juga sama. Ayah beranak ini memegang teguh satu tradisi yang sama, para isteri juga anak-anak tak boleh menyentuh makanan sebelum para laki-laki dewasa makan terlebih dahulu.

Aku, saat itu masih kecil.masih terbilang lugu untuk tahu tetek bengek aturan makan seperti itu. Yah, darahku memang dialiri oleh darah yang sama dengan moyang penghuni tempat ini. Meskipun aku sebagai tamu di rumah mereka, adat tetap berlaku. Adagium tentang adat budaya harus dijunjung tinggi di tempat ini. Jika tidak, dengarlah adagium selanjutnya berlagu dari mulut para nenek dan kakek yang telah sepuh.

Hingga akhirnya, suatu peristiwa memaksa aku untuk menuliskan hal ini. Barangkali banyak yang mengalaminya, namun karena masalah adat sekaligus penghormatan atas para lelaki, mereka masih bersetia memegang teguh tradisi leluhur mereka.

Sebenarnya bukan soal perut, bukan soal makanan. Ini soal fisi. Sebuah pemisahan. Aku berpikir bahwa mendahulukan yang lebih tua itu baik, mendahulukan laki-laki itu baik. Tapi tidak jika berlebihan.

Bagiku, tradisi demikan hanya akan memberikan kemungkinn berdirinya sekat pemisah antara anak, isteri juga suami. Takkah menyenangkan saat seluruh keluarga besar berkumpul untuk bersantap bersama? Nuansa apa lagi kiranya yang akan tertangkap oleh mata kecuali kehangatan?

Yah, mungkin dulu saat para raja makan, barangkali tak ada orang lain yang menemaninya makan. Jika pun ada mungkin para selir yang menatap pelan-pelan, memerhatikan tanpa menyentuh makanan, ataupun sekedar memotong-motongkan buah saja. Keadaan seperti itu menurutku tidak menyenangkan. Bagaimana mungkin seorang pasangan tega melihat pasangannya hanya menikmati gambar sepiring makanan yang tertangkap masuk ke retinanya, tanpa menyantapnya? Itu menyedihkan! Tak ada sisi kebersamaan sebagai pasangan.

Juga saat memisahkan piring nasi, mangkuk nasi, gelas minuman. Luar biasa sekali isteri yang memperlakukan suaminya seperti demikian. Tapi tidak bagiku!

Teringat kisah tentang Rasulullah dengan isteri beliau, Aisyah. Beliau pernah meminum dari gelas bekas bibir Aisyah. Rasulullah pernah menggendong Aisyah dan berlomba lari dengannya. 

Sewaktu Rasulullah kecil, beliau pernah bermain-main di singgasana di mana tak seorang pun berani mendudukinya kecuali kakeknya, Abdul Muthalib. Kakek seperti beliau bahkan merasa senang cucunya menempati tempat duduknya. 

Lalu, penghormatan seperti apa yang diinginkan oleh serang lelaki yang meminta-minta barang-barang keperluan makan, peralatan tidur harus dipisah dengan anak dan isterinya?
Allahu’alam. Hanya mereka yang tahu persis perasaan saat mereka diperlakukan demikian.


Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar