Ini tentang satu keluarga nun di
seberang lautan. Ayahnya adalah seorang laki-laki berbadan kekar dengan tombak
terpancang, terselip pada pinggangnya. Tombak itu bukan untuk berburu. Hanya
dipakai untuk menakuti sang bocah laki-lakinya saja. Istrinya seorang wanita
yang patuh. Ia bagai pembantu di rumahnya sendiri sekaligus seperti selir yang
melayani rajanya, di rumahnya sendiri. Setiap saat akan makan, keluarga ini
melewatinya penuh khidmat. Laki-laki selalu makan duluan, sedang anak-anak dan
istri makan belakangan, mereka hanya boleh makan saat para laki-laki pemimpin
ini telah kenyang dan menyimpankan sisa-sisa makanan untuk anak juga isterinya.
Tetangga sebelah kanannya pun sama,
tetangga sebelah kirinya juga sama. Ayah beranak ini memegang teguh satu
tradisi yang sama, para isteri juga anak-anak tak boleh menyentuh makanan
sebelum para laki-laki dewasa makan terlebih dahulu.
Aku, saat itu masih kecil.masih
terbilang lugu untuk tahu tetek bengek aturan makan seperti itu. Yah, darahku
memang dialiri oleh darah yang sama dengan moyang penghuni tempat ini. Meskipun
aku sebagai tamu di rumah mereka, adat tetap berlaku. Adagium tentang adat
budaya harus dijunjung tinggi di tempat ini. Jika tidak, dengarlah adagium
selanjutnya berlagu dari mulut para nenek dan kakek yang telah sepuh.
Hingga akhirnya, suatu peristiwa
memaksa aku untuk menuliskan hal ini. Barangkali banyak yang mengalaminya,
namun karena masalah adat sekaligus penghormatan atas para lelaki, mereka masih
bersetia memegang teguh tradisi leluhur mereka.
Sebenarnya bukan soal perut, bukan
soal makanan. Ini soal fisi. Sebuah pemisahan. Aku berpikir bahwa mendahulukan
yang lebih tua itu baik, mendahulukan laki-laki itu baik. Tapi tidak jika
berlebihan.
Bagiku, tradisi demikan hanya akan memberikan
kemungkinn berdirinya sekat pemisah antara anak, isteri juga suami. Takkah
menyenangkan saat seluruh keluarga besar berkumpul untuk bersantap bersama?
Nuansa apa lagi kiranya yang akan tertangkap oleh mata kecuali kehangatan?
Yah, mungkin dulu saat para raja
makan, barangkali tak ada orang lain yang menemaninya makan. Jika pun ada
mungkin para selir yang menatap pelan-pelan, memerhatikan tanpa menyentuh
makanan, ataupun sekedar memotong-motongkan buah saja. Keadaan seperti itu
menurutku tidak menyenangkan. Bagaimana mungkin seorang pasangan tega melihat
pasangannya hanya menikmati gambar sepiring makanan yang tertangkap masuk ke
retinanya, tanpa menyantapnya? Itu menyedihkan! Tak ada sisi kebersamaan
sebagai pasangan.
Juga saat memisahkan piring nasi, mangkuk
nasi, gelas minuman. Luar biasa sekali isteri yang memperlakukan suaminya
seperti demikian. Tapi tidak bagiku!
Teringat kisah tentang Rasulullah
dengan isteri beliau, Aisyah. Beliau pernah meminum dari gelas bekas bibir
Aisyah. Rasulullah pernah menggendong Aisyah dan berlomba lari dengannya.
Sewaktu Rasulullah kecil, beliau
pernah bermain-main di singgasana di mana tak seorang pun berani mendudukinya
kecuali kakeknya, Abdul Muthalib. Kakek seperti beliau bahkan merasa senang
cucunya menempati tempat duduknya.
Lalu, penghormatan seperti apa yang
diinginkan oleh serang lelaki yang meminta-minta barang-barang keperluan makan,
peralatan tidur harus dipisah dengan anak dan isterinya?
Allahu’alam. Hanya mereka yang tahu
persis perasaan saat mereka diperlakukan demikian.
Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar