Saya
terbangun tepat setelah berteriak karena telah “satu tempat tidur” dengan
seekor tikus besar atau Rat. Entah darimana tikus besar itu. Tidak mungkin dia
adalah makhluk jadi-jadian yang dititip masuk dalam kamar saya. Setelah
berteriak_dan malangnya teriakan itu saya rasa seperti sedang bermimpi, tidak
ada yang dengar, padahal anak-anak pondokan yang lainnya masih begadang di luar
kamar_saya mengecek dimana pintu masuk sang tikus ini. Akhirnya setelah
mengelilingi seisi kamar, tahulah saya bahwa di salah satu pojok kamar saya
telah menjadi “pintu masuk utama” bagi sang tikus.
Saya
mulai duduk, terpaku melihat kondisi kamar saya, beberapa menit terdiam
sendiri. Tiba-tiba muncul lagi seekor makhluk kecil berwarna coklat. Seperti
halnya tikus, makhluk kecil berwarna coklat ini juga adalah vektor penyakit,
mereka adalah agen pembawa aneka kuman yang menyebabkan kita sakit. Makhluk ini
bernama kecoa.
Jika
dibayangkan, kamar saya terkadang menjadi kebun binatang ukuran mini,
penghuninya adalah kucing, tikus, kecoa, cicak, semut hitam, nyamuk, laba-laba,
juga makhluk kecil lainnya yang sayapun tidak tahu namanya.
Kamar
ini telah saya tempati sejak bulan Oktober 2012 lalu.
Tipe
kamar hampir berukuran 3x3 meter ini adalah seperti tipe kebanyakan kamar
pondokan di Workshop Unhas; berdinding seng di bagian depannya, dan sekat
pemisah antar kamar adalah selembar tripleks yang dicat dengan cat kayu berwarna
biru. Berlangit-langit tripleks dan biasanya kucing dan tikus adalah penghuni
tetapnya. Saya tak perlu berpanjang lebar, tipe kamar seperti ini adalah tempat
sauna terbaik di musim kemarau, dan jika
hujan, suara manusia akan tenggelam oleh tempias air hujan yang jatuh dari
langit setelah beradu dengan seng dari atap rumah. Sedangkan pada peralihan
musim, setidaknya kita harus menyiapkan kaos kaki, sarung, sweater atau jaket,
atau jika ada, selimut tebal adalah pengganti segalanya. Jika tidak memiliki barang-barang
seperti ini, maka ketika subuh hari, dingin umpamanya drakula yang siap
menggigit belulang kita.
Berbeda
dengan pondokan lama saya, Armina, pondokan saya sekarang, Armita, tidak
memiliki halaman yang bisa ditanami tetumbuhan. Ketika menginjakkan kaki tepat
di anak tangga terakhir, maka tanah yang kita injak itu adalah jalanan umum.
Atau, jika di Armina, pagi adalah saatnya saya menyeruput teh dengan seperempat
sendok makan gula pasir, sementara mata
menikmati rerimbunan pohon nipah yang hijau dan subur, telinga kita akan
dimanjakan dengan suara sepoi angin yang perlahan membawa terbang aneka kicau
burung dari arah rerimbunan nipah, maka di Armita, pagi adalah awal dari suara
dentuman music nan keras dari kamar tetangga. Sebenarnya suara musik itu tidak
tepat berasal dari tetangga di sebelah kamar, terkadang suara itu datang dari
bagian samping pondokan. Suaranya terdengar jelas dari kamar saya. Tidak ada
sesi menyeruput teh dengan seperempat sendok makan gula pasir apalagi menikmati
rerimbunan nipah dan sepoi angin.
Sungguh,
tidak ada alasan saya untuk tidak bersyukur, meski pondokan yang saya tempati
sekarang berbeda seperti langit dan bumi dengan pondokan lama saya. Toh masih
banyak orang-orang yang tidurnya hanya beralaskan kardus minuman bekas di
emperan toko milik orang lain. Setidaknya saya bisa melindungi diri dari
kebasahan setelah hujan dan kepanasan saat matahari meninggi di puncak siang.
Jika
di pondokan lama, saya nyaris tidak pernah bertemu dengan tikus dalam rumah,
maka di pondokan ini tikus adalah penghuni kedua setelah manusia, juga kecoa
dan makhluk lainnya.
Saya
sengaja memilih pondokan ini, beberapa alasan saya adalah :
Pertama,
dulu, sewaktu kak Laras belum bersuami, maka beliau adalah orang yang pertama
menjadi alasan saya tinggal di pondok ini. Saya kehilangan figur seorang kakak
setelah dua orang kakak saya menikah. Dan kak Laras memenuhi kriterianya. Kak
Laras dan kakak pertama saya ibarat pinang dibelah dua. Ketika lebaran tiba,
maka beliau akan memasakkan ayam kecap untuk saya yang memilih tidak mudik dan
bertahan di pondokan.
Kedua,
lepas menghabiskan jatah sekolah di Strata Satu Ilmu Keperawatan, saya sangat
berat meminta uang kepada orang tua. Saya
berusaha membanding-bandingkan harga dengan pondokan lain, mencoba mencari
celah perbedaan harga. Maka dari hasil survey beberapa pondokan, maka pondokan ini
adalah yang paling murah, hanya Rp 1000.000,00/tahun dengan biaya penggunaan
listrik (alat elektronik standar) dan air ± Rp30.000,00/bulan. Itu sangat murah
sekali. Bahkan sekarang, saya hanya akan meminta tambahan uang bulanan pada
orang tua saya, ketika uang dalam dompet saya nihil dan saya makan tanpa lauk
alias nasi putih saja. Jika paceklik tiba, maka nilai dari indeks kekreatifan
saya meningkat tajam, semangat saya membuat bros seketika membuncah, dan tentu saja
selalu saya barengi dengan inovasi baru, menambahakan beberapa variasi dari jenis
bros yang biasa saya buat, agar pembeli tidak bosan. Alhamdulillah, hasil
penjualan bros bisa menutupi biaya makan
dan ongkos pete-pete atau angkot.
Saya
sama sekali tidak berat melakukannya. Jika bagi beberapa orang, hidup seperti
ini terkesan menyedihkan, maka bagi saya ini adalah bentuk pembelajaran. Saya dilatih
untuk menjadi orang-orang yang berusaha
mandiri,meski pada kenyataannya, berdikari bukanlah hal yang mudah. Sebagian besar
ongkos hidup saya masih dibiayai oleh orang tua. Dan luar biasanya adalah, mama
saya selalu mengingatkan saya ”nak, jika uang belanjamu hampir habis, segera
telpon mama”. Jika saya menggunakan alasan ini, saya tidak perlu repot-repot
menjual bros atau yang lainnya. Saya hanya tinggal mengirim sebuah pesan
singkat “Ma, kirimkan uang”. Tapi pilihan ini adalah opsi terakhir setelah saya
benar-benar tidak mendapatkan hasil dari usaha saya.
Tak
ada alasan untuk tidak bersyukur. Bukankah setiap harinya kita masih bisa
bernafas dengan gratis? Karena dibeberapa keadaan, saya menjumpai begitu banyak
orang yang harus membayar setiap liter Oksigen yang dihirupnya. Berjalanlah ke
tempat lain, dan temukan alasan bahwa fakta bahwa kita memang wajib bersyukur
adalah fakta yang tak terrbantahkan. Menengoklah kepada orang-orang dibawah
anda, maka pada satu titik, kita akan menemukan, sungguh tak ada alasan kita
untuk tidak bersyukur.
Akan
selalu ada celah untuk bersyukur, kalimat manis sekaligus menggairahkan yang justru
saya temukan di tempat ini. Beda tempat tinggal, berarti kita akan mengecapi
berupa-rupa pengalaman hidup. Bukankah pengalaman adalah guru paling mahal yang
tidak akan anda temukan dan tidak akan pernah dipajang di etalase toko? Kita hanya
perlu sedikit memahamkan pada diri sendiri seandainya sesuatu yang kurang
menyenangkan menimpa kita, bahwa begitu banyak "orang-orang besar", justru
dihasilkan dari tempaan begitu banyak pengalaman hidup yang pahit.
_Emy
Gufarni_
Makassar, 6 Juni 2013,
Pukul 01.00
| Armina, Lantai dasar |
| Armina. Gazebo alias tempat duduk-duduk |
| Armina. Kolam kecil, penghuninya lele yang rakus |


aku padamu kak Em...
BalasHapus