Sabtu, 07 September 2013

Jangan Ingatkan Aku Tentang Kapal, Angin...


Jangan ingatkan aku tentang kapal, angin.
Karena aku tahu, jauh sebelum aku menjumpai bayang-bayang gelap tepat di bibir darmaga, aku telah takluk.
Bau kapal yang sebenarnya tidak pernah mampu diwakilkan oleh satu bau; tengik, apek, busuk, atau jenis bau-bauan yang lain. Bau kapal yang terekam dalam otakku sesungguhnya kolaborasi dari aneka jenis bau-bauan, mulai dari bau mesin kapal, bau keringat ABK (anak buah kapal)  sekaligus bau penumpang yang tidak mandi, bau amonia, bau rambut yang tidak pernah dikeramas berhari-hari, bau baju-baju baru yang dilelang dekat pantri, bau masakan ikan yang tidak ada bumbunya, bau pemabuk, bau penjudi, bau wanita-wanita centil, bau lelaki hidung belang, bau muntahan tanpa ampas makanan alias hanya cairan perut alias asam lambung, bau kaos kaki basah ketika keluar dari kamar mandi karena kamar mandi yang tergenangi oleh aliran air yang tidak lolos masuk ke pembuangan, bau garam dari lautan, juga tak lupa bau dirimu, angin.
Maka dengan segala kebijaksanaan, menghormati asas tidak meminta-minta, aku dengan segenap rasa patuh kepada kedua orang tua: tak sekali pun aku berani memberi alasan mengapa aku amat membenci kapal. Aku tahu mereka akan lebih terbebani dengan biaya pesawat jika aku harus memaksa keinginanku untuk menghindari kapal.
Kau tahu angin? Aku inigin sekali bertemu dengan para nahkoda kapal-kapal mewah seperti yang aku tonton di tv-tv, kapal Titanic yang konon kapal terbesar di dunia, atau kapal pesiar megah lainnya. Aku ingin sekali berdiskusi dengan mereka, bagaimana menciptakan suasana kapal yang menyenangkan????
Bagaiman membuat kapal agar tidak over load???
Bagaimana agar penumpang patuh terhadap aturan-aturan kapal?
Bagaimana penanganan sampah agar tidak dibuang ke laut?
Bagaimana agar WC dan kamar mandi tidak bau sekaligus tidak tergenangi oleh air bekas mandi???
Aku tahu angin, kelas ekonomi yang selalu aku tumpangi sesungguhnya parade kehidupan yang sangat menyenangkan, di dalam kapal kau akan dengan mudah menyaksikan sisi lain dari orang Indonesia, dimana pun mereka berada mereka akan saling bertegur sapa. Aku punya banyak kenalan ketika aku berada di atas kapal, kadang penyakit SKSD-ku kambuh. Aku ingin berteman dengan banyak orang sekaligus. Meski disisi lain, di atas kapal kau tidak akan menjumpai orang duduk dengan muka berseri-seri, kecuali mereka yang memasang diri termangsa olehmu tepat  di pinggir sekoci. Orang-orang yang ada di dalam kapal selalu memegang sobekan kardus bekas, tisu, sarung, handuk atau apapun yang bisa menyeka keringat yang turun perlahan-lahan dari bukit-bukit kening yang basah. Kami di dalam kapal seperti orang yang sedang bersauna, itu adalah efek over load penumpang ditambah ketidak patuhan mereka atas larangan merokok di dalam kapal. Asap-asap yang mengepul yang mengandung karbon dioksida itu perlahan-lahan memerangkap dingin dari AC yang macet.
Di atas kapal, harga-harga melambung tinggi. Aqua yang 5000 perak akan meningkat tiga kali lipat menjadi 15.000 perak. Jangan ditanya harga barang-barang lain. Tapi semuanya laris manis. Di atas kapal makanan sebanyak apa pun sepertinya tidak pernah cukup. Makanan-makanan itu dimakan beramai-ramai dengan tetangga sebelah, orang-oraang yang berhimpitan langsung  dengan kasur tempat tidur.
Seperti halnya di daratan, di laut, di atas kapal pun film-film romantis akan diputar dan diserbu oleh penumpang, tempat karaoke, resto ala kapal juga ramai dikunjungi. Manusia-manusia serba tanggung saling berhimpit-himpitan. Kau tahu angin, mereka sepasang laki-laki dan wanita yang sama-sama tidak saling mengenal, lalu bertemu begitu saja di atas kapal, berkenalan, saling tukar-menukar  nomor Hp dan alamat, semakin dekat lalu pacaran, lalu berpegangan tangan, lalu….ah….demikianlah pemandangan di atas kapal.
Ada lagi bayi-bayi mungil yang tidak pernah diam, rengekan mereka sebenarnya gampang ditebak, mereka kepanasan.
Kapal itu bising, persis seperti suara kresekan siaran radio yang timbul tenggelam.  Siang hari kau tidak akan menemukan tempat yang damai, maksudku adalah tempat yang tenang untukmu bercengkrama belajar bersama bayang-bayang, kecuali mushollah yang pada malam harinya ditutup agar penumpang tidak tidur di dalamnya dan mengotori tempat ibadah itu.
Tidak usah bertanya apa yang akan aku lakukan lagi angin. Aku sendiri akan tergolek lemah lantaran mabuk laut di atas kasur busa yang seharusnya digratiskan alias sudah terhitung bersama tiket yang aku beli, namun karena kebringasan manusia mencari uang, kasur busa yang sebagian besar telah renta dan lapuk termakan usia itu dijual oleh seseorang, dua orang, tiga orang, empat orang dan entah…berapa orang lagi yang menjual kasur-kasur yang seharusnya digratiskan kepada kami penumpang kelas ekonomi.
Malam harinya, suasana akan menjadi perlahan sepi seirama dengan bertambah kencangnya hembusanmu menampar buritan kapal, aku ingin sekali memelukmu tepat ketika orang-orang tak ribut lagi. Aroma laut yang kau bawa di tengah malam adalah mistis bercampur kedamaian. Entahlah apa yang sedang terjadi di bawah laut yang menghitam. Suaramu, suara angin yang ribut dan seketika menyebar menembus gelap malam. Suaramu, suara tengah malam yang meminta agar orang-orang seperti aku mengingat Tuhannya. Suaramu, suara gelisah yang mencabik ketentraman; kapan daratan akan terlihat???
Demikianlah. Elegi kapal yang selalu aku bawa, aku ceritakan padamu. Itu oleh-olahku dari kapal Tilong Kabila, Wilis, juga Kelimutu.
Jangan ingatkan aku tentang kapal lagi, angin.

_Emy Gufarni_
Makassar, 7 September 2013

2 komentar:

  1. Tulisan ini mengingatkanku dengan kapal itu. yang pada saat aku belum tahu tentang kematian, ombak besar yang membuat orang panik luar biasa malah membuat aku bergembira..

    BalasHapus
  2. kamu memang sedikit mengalami kelainan kromosom wan...
    hehehehe...

    BalasHapus