“Uniknya
anak kecil, mereka akan memainkan semua mainan yang ada di depannya tanpa
merasa takut.”
Anak kecil yang aku gendong ini adalah keponakan pertama,
anak pertama, dari kakak pertama. Hilmy.
Dia sangat manis dengan kulit yang tidak terang. sudahlah, jangan bertanya lagi
apa maksud di balik gabungan kata “tidak terang”. Jika digambarkan dengan
sedikit tambahan nilai estetika, maka hilmy adalah boneka anak kecil dari
pakistan.
Dia adalah boneka
dengan mata bulat penuh, matanya yang jernih dipenuhi dengan bola mata yang
hitam, bulu mata yang panjang nan lentik, hidungnya yang tidak mancung namun
kecil senada dengan bibir mungilnya yang sangat tipis: dia mewarisi mata,
hidung, juga bibir ayahnya.
Badannya yang tidak gendut tapi berisi, dan liat. Entahlah,
apakah ini efek dari seringnya ia dipijat, ditambah dengan keaktifannya yang
luar biasa, atau memang dia mewarisi gen dari salah satu kedua orang tuanya?
Kurasa tidak, orang tuanya adalah manusia dengan tubuh imut.
Hilmy adalah Balita lincah.
Hilmy adalah bola karet yang sekali saja di pantulkan pada
sebuah bidang datar, maka ia akan memantul kesana kemari.
Hilmy adalah jagung yang meledak-ledak, meletup-letup, lalu
segera menjadi pop corn.
Hilmy adalah bayi cheetah
yang menggemaskan, namun ketika ia berumur dua tahun, seketika berubah menjadi cheetah dewasa. Tak tanggung-tanggung
bila menggigit.
Pukulan tinjunya adalah pukulan atlet tinju di atas ring.
Beberapa kali aku kena tinjunya. Dan hasilnya, kulitku membiru. Orang tuanya
kebingungan menghadapi anak pertamanya yang aktifnya bukan main. Di dalam
kamusnya, Hilmy tak pernah mengenal kata “diam”. Hanya ada satu cara untuk
menghentikan keaktifanya, yaitu dengan memutarkan film kartun anak-anak. Maka
jika sudah demikian, Hilmy segera menjadi patung anak kecil yang imut dan
manis. Jika digoda, ia takkan meladenimu.
Matanya berbinar-binar jika melihat sesuatu yang menarik
hatinya, dan selalu akan ia tanyakan meski kata-kata yang keluar hanya
terdengar seperti potongan-potongan suku kata atau hanya sekedar
menunjuk-nunjuk benda yang ada di depannya.
“Mi,
pa ni?”
Maksudnya,
umi, benda ini apa?
“Au…au
mmi..”
Maksudnya,
gak mau umi..
Sejak dalam rahim ibunya, Hilmy sudah membaca aneka buku,
mulai yang ringan, seperti buku-buku cerita anak, sampai buku-buku dewasa yang
beratnya Masyaallah, buku berat itu
adalah buku Metodologi Penelitian. Hebat betul anak ini. Aku saja yang secara
fisik jauh lebih dewasa darinya, baru mengenal buku-buku metodologi penelitian
ketika duduk di bangku kuliah.
Ibunya
yang selalu rajin membacakannya, di waktu-waktu senggangnya, Hilmy diajak
ngobrol oleh sang ibu, dan respon yang ia berikan adalah tendangan-tendangan
kecil yang segera membuat aku ingin menangkap bagian-bagian mana dari tubuhnya
yang menonjol pada permukaan kulit perut ibunya.
Saat diputarkan Murottal, maka gerakannya lembut,
seperti ia ingin memberitahukan pada kami bahwa ayat-ayat Al-Quran itu
menenangkan hatinya. Dilain hari, bentuk stimulasi yang ibundanya berikan
adalah stimulasi cahaya: bagian perut ibu dipancarkan cahaya lampu senter.
Keaktifannya telah nampak semenjak lahir. Ketika ia berumur
sekitar lima bulan, dia mulai belajar tengkurap. Umur enam bulan, sudah
menggelinding kesana kemari mengitari semua sisi tempat tidur. Jatuh bukan hal
aneh lagi baginya. Pernah aku merekam tingkah polahnya ketika bermain di atas
tempat tidur, aku menggodanya dengan memain-mainkan mata padanya, ia tertawa
terkekeh-kekeh. Senang mendengar gelak tawanya, aku semakin menggodanya, sebagai balasannya, Hilmy
semakin terkekeh-kekeh, hingga ia benar-benar kecapaian karena tertawa.
Hal yang paling membuat aku terkagum-kagum padanya adalah,
rasa cintanya kepada sang Ibu, berupa perlindungan yang ia berikan saat adik
bungsuku, Ogi, berpura-pura menjambak rambut atau mencekik leher ibunya. Maka dengan sangat gesit ia mendekati sang
ibu, lalu menarik-narik tangan “sang musuh”, Ogi, dari ibu tersayang. Ia
menangis meraung-raung berharap ibunya akan dilepas. Kawan, anak sekecil itu
telah pandai mencintai ibunya dengan cara yang sangat indah.
Sebenarnya, kompleksitas yang ia miliki adalah hasil “trial and error” pola asuh sang ibu
sejak Hilmy dalam kandungan.
***
Hari bersejarah itu datang menjemput aku, juga anak kecil
yang sedang kugendong ini. Saat itu ia berumur satu tahun. Aku sengaja
“meminjam” Hilmy kecil untuk ujian panum pada Departemen Anak. Materi yang akan
diujiankan adalah terapi bermain pada anak. Ini dia yang aku suka.
Tanpa memperhatikan petunjuk permainan apa yang harus
dimainkan, aku membawa masuk Hilmy kecil ke dalam ruangan ujian. Mainan
berserakan di lantai. Ada bola-bola plastik aneka warna, ada balok-balok, ada puzzle, ada keranjang bola basket, dan
masih banyak lagi. Semuanya terlihat seperti gundukan mainan.
Tanpa kukomandoi,
Hilmy memainkan apa saja yang dilihatnya.
Sebenarnya, menurut teori keperawatan anak, untuk balita umur 1 tahun, maka
pilihan permainannya adalah melempar bola. Tapi uniknya anak kecil, mereka akan
memainkan semua mainan yang ada di depannya. Tanpa merasa takut, dan itulah
hebatnya anak-anak ketimbang orang dewasa yang terkadang penuh dengan
pertimbangan ketika dihadapkan pada sesuatu.
Anak-anak selalu merasa mampu melakukan apa saja, asal, jangan pernah menakut-nakuti mereka dalam
bentuk apapun. Menakut-nakuti anak-anak walaupun sekedar dengan kata-kata
berarti melatih mereka untuk takut ketika ia besar. Dimainkannya semua jenis
mainan yang ada, kecuali puzzle dan
kertas gambar yang terletak agak jauh dari mainan lainnya. Ia senang, sesekali
menarik tanganku untuk di ajak bermain-main. Aku kegirangan.
Tepat di depan daun pintu masuk laboratorium, duduk
seseorang yang bertubuh gemuk, dengan muka yang menggambarkan bahwa dia bisa
akrab dengan siapapun. Namanya Ners Enceng. Ns Enceng, adalah dosen penguji
yang baik hati. Ns dibaca Ners. Titel yang melekat manis di depan nama
panggilannya itu menandakan bahwa beliau telah mengantongi ijazah Ners.
Beliau menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat atraksi
menarik antara tante dan keponakan ini. Sungguh atraksi yang luar biasa! Atraksi
itu adalah kolaborasi antara dua permainan yang dimainkan oleh dua orang, aku
juga Hilmy. Permainan saling melempar bola sekaligus memasukkannya ke dalam
keranjang bola basket. Hilmy mulai melempar bola sekenanya padaku. Anak itu
selalu antusias jika bermain.
Kembali ia melempar-lempar bola padaku, hanya sekali
lemparan saja, bola itu sudah jauh menggelinding di pojok ruangan. Aku bangkit dari tempat dudukku, segera
mengejar bola, lalu kulemparkan lagi bola itu padanya. Ia cekikikan,
dilemparkannya jauh lebih keras, bola itu mulai menggodaku. Aku mengejarnya,
bangkit dari tempat dudukku untuk yang kedua kalinya. Kembali aku
melemparkannya pada Hilmy.
Belum puas ternyata, kali ini dia melemparkan bola ke arah
yang berlawanan dengan tempat dudukku. Ah….pinggangku encok, merubah-rubah
posisi dari posisi duduk ke posisi berdiri secara cepat membuat tubuhku
kelelahan. Aku tak mengejar bolanya. Sebagai hadiah dari Hilmy kecil, ia
mengejar bola yang dilemparnya. Tubuhnya yang gemuk seperti terguncang-guncang
ketika ia berlari, lemak yang mendiami pipinya yang imut bergetar, aku takjub
melihat laki-laki kecil berbaterai Alkalin ini.
Ia menghampiriku, menarik tanganku, lalu menyodorkan bola
padaku. Bola itu berwarna merah muda. Telunjuknya mengarah pada keranjang bola,
seketika aku paham maksud permintaannya. Kulemparkan bola masuk ke dalam
keranjang bola basket.
“hup….., yes!
masuk, dek”
Ia
terkekeh-kekeh.
Kembali ia mengejar bola yang menggelinding jauh. Diantarkannya
bola itu, lalu disuruhnya untuk melakukan hal yang sama. Teman, inilah rahasia
keliatan tubuh anak satu tahun ini, tubuhnya atletis lantaran ia senang
berlarian.
Kuambil bolanya, kulemparkan lagi masuk ke dalam keranjang.
“yes!, masuk lagi dek!”
Tante-tante imut sepertiku memang jago melempar bola, aku
terkekeh-kekeh bersamanya. Sebenarnya rahasia dibalik kesuksesan melempar bola
masuk ke dalam keranjang bola basket ini adalah perkara yang luar biasa
sederhana: jarak antara aku juga keranjang basket itu tidak sampai satu meter. Ns
Enceng melirik kami yang paling heboh, menggerak-gerakkan kakinya, sambil
menulis sesuatu dalam selembar kertas. Mungkin lembar penilaian. Aku
membayangkan angka Sembilan tengah berlari-lari kecil dan bergembira dalam
kolom namaku.
Ujian Departemen Keperawatan Anak usai. Kugendong hilmy. Ia
menurut, kelelahan sepertinya. Dipintu keluar, ternyata ibunda sang laki-laki
kecil ini telah menunggu.
Makassar, 2013
Catatan ini saya tulis saat masih menempuh ujian kepaniteraan klinik profesi Ners
Tidak ada komentar:
Posting Komentar