“Di
mana ada Ketorolac di situ ada Ranitidin”
Obat-obatan ini sering sekali aku lihat.
Di bagian mana saja, di bagian Bedah Saraf, di bagian Digestiv, di bagian Cardiovaskuler,
di mana saja. Seolah obat-obatan ini adalah anak emas dari Rumah sakit besar
yang berdiri kokoh bercat putih ini.
Ketorolac dan Ranitidin.
Di mana ada Ketorolac di situ ada Ranitidin.
Mereka umpamanya dua sejoli yang tak pernah terpisahkan, selalu beriringan.
Ketorolac adalah rajanya, sementara Ranitidin adalah putrinya. Jika Ketorolac adalah Romie, maka Ranitidin adalah Juliet.
Ketika pertama kali memasuki bagian Bedah
Saraf, aku masih sangat polos, aku menginjeksikan saja pasangan obat ini tanpa
banyak bertanya apapun. Lain waktu aku memasuki bagian Digestiv, tempat segala jenis penyakit pencernaan dikumpulkan. Di sana
aku temukan lagi pasangan Ketorolac
juga Ranitidin.
Aku mulai curiga dengan obat-obatan
ambisius ini, mereka telah menempati dua bagian yang cukup banyak didatangi
oleh pasien dengan bermacam-macam jenis penyakit. Di bagian lain, teman-teman mengatakan
hal yang sama, bahwa Ketorolac dan Ranitidin ada dimana-mana. Di bagian
Saraf, di bagian Interna, di bagian
Tumor, Urologi, dimana-mana, pasangan
romantis itu selalu ada. Maka ketika memasuki bagian Orthopedi, mendapati hal yang sama, aku memberanikan diri bertanya
kepada seorang dokter residen.
“Dok, Ketorolac dan Ranitidin
obat untuk apa?”
“mengapa mereka selalu berpasangan?”
Sang dokter menatapku tajam.
“Oh, Ketorolac itu analgetik sedangkan Ranitidin penurun asam lambung”
“Oooooh.”
Aku seolah mengerti, padahal tidak.
Setahuku analgetik itu adalah anti nyeri.
Obat-obatan dengan efek analgetik mampu menurunkan bahkan meredakan nyeri. Sedangkan
penetralisir asam lambung? Mungkin akan mengurangi kadar asam lambung yang bisa
membuat lambung terasa perih, juga sensasi terbakar pada ulu hati.
“tapi apa hubungannya analgetik dengan
menurunkan asam ambung?”
Aku semakin bingung. Aku berlalu
meninggalkan sang dokter dengan setumpuk pertanyaan yang membuatku pening.
***
Lagi, ketika menginjeksikan pasangan
setia ini, Ketorolac juga Ranitidin pada seorang pasien dengat fraktur Tibia atau patah tulang kering (betis),
lagi-lagi obat ini tersenyum simpul ketika akan memasuki vena sang pasien. Aku
menatapnya tajam, berbincang dan bertanya pelan pada mereka.
“Hei, kalian berdua terlalu ambisius”
“Mengapa?”
“Hei, apa kau tidak lihat pada hampir
setiap bagian kalian berdua selalu ada?”
“Ah, biasa saja, suntikkan kami
pelan-pelan pada vena pasienmu”
“Mengapa harus pelan-pelan?”
“Hei, apa kamu mau memburukkan kondisi pasienmu?”
“Lho??? Bukankah kalian berdua adalah
obat penyembuh”
“Ah, dasar perawat pemula, sana browsing di internet”
Aku lesu menghadapi pasangan obat yang
angkuh ini.
***
Tidak sabar, maka aku mulai browsing di internet. Kuketik dua
pasangan sombong itu, Ketorolac dan Ranitidin. Maka muncullah puluhan
artikel tentang mereka, kuklik satu artikel. Aku membacanya perlahan-lahan.
Kesimpulan yang aku tarik dari hasil
bacaan itu adalah dua obat-obatan ini memang harus bergandengan. Ketorolac adalah analgesic, seperti yang
dikatakan oleh seorang dokter residen pada bagian Orthopedi. Namun efek lain yang muncul ketika pemberian analgesik
tanpa disertai penurun asam lambung, pasien akan kesakitan pada daerah perut
atas atau bisa juga merasakan sensasi seperti terbakar pada ulu hatinya. Efek samping
dari Ketorolac adalah menaikkan asam lambung,
maka untuk menurunkan asam lambung, dipilihlah Ranitidin sebagai penurun kadar asam lambung.
Wah, Ranitidin luar biasa!
Aku bertanya lagi pada seorang teman yang
sedang menyelesaikan program apotekernya di Jogja, namanya Oca. Dia adalah
sahabatku semasa SMA.
“Ca,
Ranitidin dan Ketorolac itu obat
apa? Kenapa harus disuntikkan pelan-pelan?”
“Oh, mereka memang harus dikombinasikan
Em, Ranitidin menekan efek yang
ditimbulkan oleh Ketorolac. Harus
disuntikkan perlahan-lahan karena obat tersebut cukup pekat, pasienmu nanti bisa
pusing dan kesakitan Em”.
“Oh, terimakasih ya Ca”
”Ok cinta”.
Maka sejak saat itu, aku menghargai dua
pasangan obat ini. Jika akan menginjeksikan pada pasien, aku memberitahukan
kepada pasien bahwa obat-obat tersebut sedikit nyeri ketika memasuki pembuluh
darah. Kuinjeksikan pelan-pelan, sangat menghargai pasien juga menghindari efek
yang bisa saja muncul ketika aku tidak sadar terlalu cepat menginjeksikannya.
Makassar, 2013
Detik-detik menikmati masa dinas, Rs Wahidin Sudiro Husodo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar