Pergi
adalah saat aku diizinkan untuk mencari sesuatu yang aku yakini pada sebuah rumah
yang membuatku hangat dan terbangun saat fajar belum sempurna merah di balik
gemunung. Ia yang bisa membuatku menjalani sisa-sisa umur untuk kehidupan dan
penghambaan.
Pergi
adalah saat aku diizinkan untuk memilih apa yang aku mau, tak memaksa apalagi
menghakimi. Manusia tak pantas menilai orang lain dari apa yang nampak sekilas
dari matanya, apa yang ia dengar dengan pendengarannya sebelum ia benar-benar
hidup bersama dirinya.
Pergi
adalah saat aku diizinkan untuk meninggalkan sebuah rumah; jiwa tempat aku tinggal
mengecap sisi hidup orang lain beberapa saat lalu.
Pergi
adalah saat aku diusir dari sebuah bola
mata yang tak akan lagi melihat bayang hitam yang melekat bersama tanah.
Pergi
adalah saat aku mencoba sadar, hari ini aku tak memulai hidup dengan
candaan-candaan kecil di subuh hari lagi.
kau adalah rindang, yang hempas, naik lalu tenggelam
Ketika
cahayamu silau memulai malam
Kerikil
di tengah tubuh kerdilmu
Debu
melumuri wajah sahajamu
Aku
terdiam lama dalam ejaan ini
Kudapati
diriku terperih berjalan sendiri
Tanpa
apa-apa. Tanpa siapa-siapa*
Makassar, 13 Januari 2014
* Puisi ini dari seorang adik yang mencintai kakaknya. Terimakasih telah menuntunku pelan menemukan titik balik kehidupan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar