Senin, 13 Januari 2014

Tentang Kepergian



 
Pergi adalah saat aku diizinkan untuk mencari sesuatu yang aku yakini pada sebuah rumah yang membuatku hangat dan terbangun saat fajar belum sempurna merah di balik gemunung. Ia yang bisa membuatku menjalani sisa-sisa umur untuk kehidupan dan penghambaan.

Pergi adalah saat aku diizinkan untuk memilih apa yang aku mau, tak memaksa apalagi menghakimi. Manusia tak pantas menilai orang lain dari apa yang nampak sekilas dari matanya, apa yang ia dengar dengan pendengarannya sebelum ia benar-benar hidup bersama dirinya.

Pergi adalah saat aku diizinkan untuk meninggalkan sebuah rumah; jiwa tempat aku tinggal mengecap sisi hidup orang lain beberapa saat lalu.

Pergi adalah saat aku diusir  dari sebuah bola mata yang tak akan lagi melihat bayang hitam yang melekat bersama tanah.

Pergi adalah saat aku mencoba sadar, hari ini aku tak memulai hidup dengan candaan-candaan kecil di subuh hari lagi.

 kau adalah rindang, yang hempas, naik lalu tenggelam
Ketika cahayamu silau memulai malam
Kerikil di tengah tubuh kerdilmu
Debu melumuri wajah sahajamu
Aku terdiam lama dalam ejaan ini
Kudapati diriku terperih berjalan sendiri
Tanpa apa-apa. Tanpa siapa-siapa*

Makassar, 13 Januari 2014
* Puisi ini dari seorang adik yang mencintai kakaknya. Terimakasih telah menuntunku pelan menemukan titik balik kehidupan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar