Selasa, 28 Oktober 2014

Tak Cukup Hanya Cinta



Jika Anda menyukai seseorang, lantas dengan beberapa pertimbangan Anda menganggap bahwa Ia cukup layak menjadi ibu dari anak-anak Anda, datangi orang tuanya, segera. Sampaikan maksud baik Anda, sampaikan padanya. Sebab menunggu, berarti memberi kesempatan kepada orang lain untup menikung lebih dulu jalan yang sedang Anda tempuh.

Bergegaslah memperbaiki diri Anda sebelum Anda ingin menuntun perjalanan ibu dari anak-anak Anda. Watak pemimpin telah tumbuh subur pada diri tiap-tiap laki-laki yang telah dilahirkan ke dunia. Dengan watak tersebut kerap kali laki-laki memiliki keinginan untuk menjadi penuntun bagi istrinya kelak. Lalu, dengan alasan demikian, sudah cukup layakkah Anda menjadi seorang penuntun? Setidaknya, Anda cukup lebih bijaksana.

Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kapan kita bisa meraihnya jika kita tak mengambilnya dari tangan Tuhan? Menunggu Tuhan memberikannya kepada kita?

Tuhan tak akan pernah mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut merubahnya sendiri. Kalimat tersebut terpatri dalam kitab suci abadi. Setidaknya, ini adalah alasan saya untuk melegitimasi tindakan “siapa cepat dia dapat”. Tapi tentu saja, tindakan tersebut harus dibarengi dengan kesiapan moril dan materil. Apa pun alasan kita, menikah tak cukup hanya cinta.

Bima, Oktober 2014

Sabtu, 18 Oktober 2014

Geisha dan Cerita Tentang Anak Didik



Saya heboh sendiri, umpama seorang penghibur alias Geisha yang sedang sibuk sendiri. Sedang  mereka....

mereka memang tak pernah mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang saya bicarakan. Saya belum mampu memetakan pikiran saya pada mereka sesuai dengan tingkat kemampuan mereka menerima pelajaran. Salah satu penyebabnya, ketidak adaan buku. Setiap kali pertemuan, anak-anak saya hanya menunggu saya menjelaskannya saja. Membuka internet tidak, membuka buku juga tidak. Lalu, bagaimana caranya agar kami memiliki kesamaan pandangan tentang apa yang sedang dipelajari?

Saya pun harus kembali ke masa dulu. Pola pikir masyarakat cenderung menganggap buku itu tidak penting. Bisa di dapatkan di perpustakaan sekolah saja jika mau. Tapi, masalahnya adalah tidak semua murid suka membaca buku. Dan inilah letak kesulitan saya. Saya heboh sendiri berbicara tentang sisitem pernapasan, sedang mereka...hanya menghayal dalam pikiran yang terbatas. Jarang membaca membuat mereka harus takluk sendiri.

Saya mengajari mereka menghayal. Salahkah? Seandainya , rongga badan saya bisa dibuka untuk akhirnya dilihat oleh mereka. Saya sedih, manakala melihat mereka mulai membohongi diri mereka sendiri. Mereka mengangguk mengerti, tapi saat saya bertanya mereka hanya membalas dengan senyuman. Jika pun ada yang menjawab, hanya segelintir orang saja. Saya sedih, menyaksikan betapa saya ini masih kurang belajar. Saya berada pada titik kebingungan. Bagaimana caranya agar mereka paham apa yang sedang saya bicarakan?

Jauh lebih penting lagi, mereka bisa tahu, bahwa apa yang sedang saya jelaskan sekarang adalah gambaran besar apa yang sedang terjadi dalam tubuh mereka. Itu hal yang jauh lebih penting dari sebuah angka. Saya berharap, seiring bertambahnya pengetahuan mereka, kami bisa saling menasehati untuk terus bersyukur telah diciptakan oleh Tuhan dengan sebaik-baik bentuk.

Kesalahan terbesar lainnya adalah, mencoba menjadi seorang pendidik padahal saya berlatar belakang nonpendidikan. Memang, saya dilahirkan dari keluarga guru, tapi kemampuan untuk menjadi seorang pengajar tidak bisa diwariskan turun temurun. Ia hanya bisa didapatkan dari proses belajar.

Jika sudah begini, rasa-rasannya ingin memutar kembali waktu, hingga saya sampai pada masa-masa sewaktu duduk di bangku SMA. Saya ingin merasakan bagaimana murid mampu memahami apa yang disampaikan oleh gurunya. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak saya dari guru mereka?

Saya akhirnya sadar, bukanlah perkara mudah membuat anak didik paham dengan apa yang sedang kita pahami. Saya seolah-olah ingin menyamakan kepala saya dengan mereka. Itu tidak mungkin. Mengapa? Karena saya lebih dulu dilahirkan dari pada mereka. 

Perkara cepat lambatnya kelahiran itu sebenarnya mengandung hakekat yang cukup rumit dijelaskan. Tetapi bukan tidak mungkin. Seseorang yang lebih dulu dilahirkan berarti memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengecapi banyak hal lebih dulu dari mereka yang dilahirkan sedikit lebih lambat. Tapi itu bukan alasan, kemajuan teknologi telah merubah paradigma seperti itu. Internet membuat dunia ini sudah tak memiliki batasan lagi.

Saya tidak pernah sepakat dengan pernyataan “anak-anak sekarang tidak sepintar pendahulu-pendahulunya”. Menurut saya itu apologi atas ketidak berdayaan pendidik memetakan pikirannya kepada murid-murid. Saya masih memegang teguh bahwa setiap anak dilahirkan dengan kecerdasan yang berbeda-beda. Masing-masing anak memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Bahkan lebih dari itu, masing-masing anak memiliki keistimewaan. Dan tugas para pendidik adalah menemukan potensi itu.

Oh, pantas saja Allah begitu mengangungkan para guru. Karena pekerjaan menjadi seorang pendidik luar biasa berat.

Oktober, 2014

Jumat, 17 Oktober 2014

Kita Terlalu Pandai Merasa



Kita ini terkadang terlalu pandai merasa
Pandai merasa bahwa kitalah yang paling…
Benar bukan???
Kemarin, saat aku membuka akun facebook, aku mendapati para muslimah saling mengatakan diri mereka benar.
Aku hanya tersenyum kecut, sembari beristigfar banyak-banyak. Tuhan sedang mempertontonkan sebuah drama yang dulu pernah aku perankan.
Dulu, aku selalu merasa bahwa dirikulah yang benar,
Tapi tidak sekarang….
Seseorang menegurku dengan suara lantang dan keras, perihal hal-hal buruk yang aku sembunyikan.
Benar, acapkali kita  merasa paling benar.
Atau kita lupa?
Allah jauh lebih benar

Oktober, 2014 

Kamis, 16 Oktober 2014

Cinta Itu Indah?



Dia, sosok yang ku kenal dulu, sangat lama, sangat akrab, tiba-tiba bercerita :
“ Dek, kita mencintai hanya karena kebutuhan”
Aku berhenti menjelajahi sekitarku
Kita mencintai hanya karena kebutuhan??? Hah???? Benarkah???
Sedikit menyorot ujung matanya. Aku ingin tidak percaya pada kata-katanya. Tapi sungguh, tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya. Dia, seorang murabbiah sekaligus wanita kantoran sekaligus seorang istri dan ibu. Dia telah melewati semuanya dan memasuki gerbang kenyataan : “Berumah Tangga”.

Sedikit skeptis. Sebab, kukira cinta itu mencintai apa adanya, tanpa pamrih, juga tanpa sarat
Bulshitkah semua itu???
Allahu’alam
Yang kutahu, beretorika memang gampang, tapi pengaplikasianlah yang akan membuktikan retorika kita, sepenuhnya….
***
Sepenggal cerita di atas, hanya satu dari sekian banyak cerita cinta yang kudengar.
Entahlah…..apakah demikian menakutkannya?
Iya, sedikit menakutkan dan menyakitkan, jika cinta hanya semata cinta pada seorang makhluk bernama manusia, tanpa dilandasi cinta kepada Zat yang pantas untuk dicinta sepenuhnya. Betapa sering kita diamuk kecewa.

Beliau (wanita dalam cerita di atas), dulu juga seringkali membayangkan dan berpikir cinta itu hanya keindahan: ditatap indah, dipegang indah, mengkhayalnya indah, bahkan ketika merinduinya juga sangat indah. Tapi setelah beliau menikah, paradigma beliau tentang cinta berubah, hampir semua makna cinta tatkala ia muda dulu, ingin diganti dengan paradigma baru, yah….tentang makna cinta setelah beliau menikah.
Beliau juga bilang, cinta juga tak sepenuhnya menyakitkan, banyak keindahan di sana, juga pelangi. Tapi hanya cinta kepada Allah sepenuhnya yang bisa menguatkan, yang bisa membuatmu bertahan mencintai suamimu juga anak-anakmu.
Pesan singkat, namun sangat dalam 

Yah….Sungguh, kecintaan yang berlandaskan keridhaan dengan apa-apa yang telah ditetapkan Allah, akan menghasilkan cinta yang berkualitas…

Makassar, 20 Desember 2010