Dia, sosok
yang ku kenal dulu, sangat lama, sangat akrab, tiba-tiba bercerita :
“ Dek, kita
mencintai hanya karena kebutuhan”
Aku berhenti
menjelajahi sekitarku
“Kita mencintai hanya karena
kebutuhan??? Hah???? Benarkah???”
Sedikit
menyorot ujung matanya. Aku ingin tidak percaya pada kata-katanya. Tapi
sungguh, tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya. Dia, seorang murabbiah
sekaligus wanita kantoran sekaligus seorang istri dan ibu. Dia telah melewati
semuanya dan memasuki gerbang kenyataan : “Berumah Tangga”.
Sedikit skeptis. Sebab, kukira cinta
itu mencintai apa adanya, tanpa pamrih, juga tanpa sarat
Bulshitkah
semua itu???
Allahu’alam
Yang kutahu,
beretorika memang gampang, tapi pengaplikasianlah yang akan membuktikan
retorika kita, sepenuhnya….
***
Sepenggal
cerita di atas, hanya satu dari sekian banyak cerita cinta yang kudengar.
Entahlah…..apakah
demikian menakutkannya?
Iya, sedikit
menakutkan dan menyakitkan, jika cinta hanya semata cinta pada seorang makhluk
bernama manusia, tanpa dilandasi cinta kepada Zat yang pantas untuk dicinta
sepenuhnya. Betapa sering kita diamuk
kecewa.
Beliau (wanita
dalam cerita di atas), dulu juga seringkali membayangkan dan berpikir cinta itu
hanya keindahan: ditatap indah, dipegang indah, mengkhayalnya indah, bahkan ketika
merinduinya juga sangat indah. Tapi setelah beliau menikah, paradigma beliau
tentang cinta berubah, hampir semua makna cinta tatkala ia muda dulu, ingin
diganti dengan paradigma baru, yah….tentang makna cinta setelah beliau menikah.
Beliau juga
bilang, cinta juga tak sepenuhnya menyakitkan, banyak keindahan di sana, juga
pelangi. Tapi hanya cinta kepada Allah sepenuhnya yang bisa menguatkan, yang bisa
membuatmu bertahan mencintai suamimu juga anak-anakmu.
Pesan singkat,
namun sangat dalam
Yah….Sungguh, kecintaan yang berlandaskan keridhaan dengan apa-apa yang telah
ditetapkan Allah, akan menghasilkan cinta yang berkualitas…
Makassar, 20 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar