Kamis, 16 Oktober 2014

Cinta Itu Indah?



Dia, sosok yang ku kenal dulu, sangat lama, sangat akrab, tiba-tiba bercerita :
“ Dek, kita mencintai hanya karena kebutuhan”
Aku berhenti menjelajahi sekitarku
Kita mencintai hanya karena kebutuhan??? Hah???? Benarkah???
Sedikit menyorot ujung matanya. Aku ingin tidak percaya pada kata-katanya. Tapi sungguh, tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya. Dia, seorang murabbiah sekaligus wanita kantoran sekaligus seorang istri dan ibu. Dia telah melewati semuanya dan memasuki gerbang kenyataan : “Berumah Tangga”.

Sedikit skeptis. Sebab, kukira cinta itu mencintai apa adanya, tanpa pamrih, juga tanpa sarat
Bulshitkah semua itu???
Allahu’alam
Yang kutahu, beretorika memang gampang, tapi pengaplikasianlah yang akan membuktikan retorika kita, sepenuhnya….
***
Sepenggal cerita di atas, hanya satu dari sekian banyak cerita cinta yang kudengar.
Entahlah…..apakah demikian menakutkannya?
Iya, sedikit menakutkan dan menyakitkan, jika cinta hanya semata cinta pada seorang makhluk bernama manusia, tanpa dilandasi cinta kepada Zat yang pantas untuk dicinta sepenuhnya. Betapa sering kita diamuk kecewa.

Beliau (wanita dalam cerita di atas), dulu juga seringkali membayangkan dan berpikir cinta itu hanya keindahan: ditatap indah, dipegang indah, mengkhayalnya indah, bahkan ketika merinduinya juga sangat indah. Tapi setelah beliau menikah, paradigma beliau tentang cinta berubah, hampir semua makna cinta tatkala ia muda dulu, ingin diganti dengan paradigma baru, yah….tentang makna cinta setelah beliau menikah.
Beliau juga bilang, cinta juga tak sepenuhnya menyakitkan, banyak keindahan di sana, juga pelangi. Tapi hanya cinta kepada Allah sepenuhnya yang bisa menguatkan, yang bisa membuatmu bertahan mencintai suamimu juga anak-anakmu.
Pesan singkat, namun sangat dalam 

Yah….Sungguh, kecintaan yang berlandaskan keridhaan dengan apa-apa yang telah ditetapkan Allah, akan menghasilkan cinta yang berkualitas…

Makassar, 20 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar