Apa
itu bahagia?
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia bahagia adalah suatu keadaan tentram dan bebas
dari segala yang menyusahkan. Beberapa tokoh
mendefinisikan bahagia adalah sebagai berikut:
Happiness is when what you think what
you say, and what you domare in harmony.
-Mahatma Gandhi-
Happiness is something that you are and
it comes from the way you think.
-Wayne Dyer-
Happiness is the meaning and the
purpose of life, the whole aim and end of human existence.
-Aristoteles-
Dari
pengertian di atas, jelas bahwa bahagia adalah suatu keadaan. Tung Dasem
Waringin memberikan pengertian yang berbeda tentang apa itu bahagia. Menurutnya
bahagia adalah cara kita menafsirkan hidup dan hal-hal yang ada di dunia.
Karena bahagia adalah cara kita menafsirkan hidup kita, maka bahagia tidak
tergantung dari sekitar kita. Ini adalah bahagia tanpa syarat.
Islam
sendiri memandang bahwa bahagia adalah tatkala seorang manusia mampu mensyukuri
apa yang telah direzkikan Tuhan padanya. Saya teringat sebuah hadist, “Sungguh
baik keadaan seorang muslim, jika dia diberikan rezki maka dia bersyukur dan
jika ia diuji maka dia bersabar”, kira-kira seperti itu kalimatnya. Dari hadist tersebut, saya menarik kesimpulan
bahwa bahagia itu adalah sesuatu yang bersyarat. Kita bahagia jika telah mampu
mensyukuri apa-apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Maka sebelum rasa
syukur itu hadir, boleh jadi kita belum seutuhnya bahagia. Rasa syukur
seringkali dikorelasikan dengan ikhlas. Bukan saja ikhlas melakukan dan memberi
tapi juga ikhlas menerima. Saya rasa, saat kita mengerjakan sesuatu dengan
ikhlas, dengan segenap ketulusan, maka kita akan bahagia. Apakah ketika kita
mengerjakan sesuatu tanpa ketulusan (terpaksa) akan bahagia?
Ternyata,
ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa untuk bahagia, kita membutuhkan sebuah
“gen bahagia” dari keturunan kita sebelumnya. Orang-orang yang memiliki orangtua,
nenek, kakek, atau buyut yang mudah berbahagia,
maka dia cenderung untuk mudah juga berbahagia. Entahlah, apakah hal tersebut
berhubungan dengan pola asuh, atau yang lain? Saat orang tua kita mengatakan “kerjakanlah sesuatu dengan penuh ketulusan
dan tanpa keterpakasaan”,maka itu adalah
bahagia.
Tapi
sayang, jika menganggap bahwa bahagia adalah kepuasan dari sesuatu yang bersyarat, maka bahagia itu tidak
abadi. Mengapa? Karena manusia itu tidak memiliki titik jenuh kepuasan. Manusia
tidak pernah merasa puas. jika uang
adalah salah satu sumber kebahagiaan, maka ketika uang sudah tidak mampu lagi
membeli kebahagian lantaran kita telah memiliki semuanya, maka masihkah kita
akan mengatakan bahwa kita bahagia?
Kembali
pada pengertian bahagia menurut KBBI bahwa bahagia adalah keadaan bebas dari
hal-hal yang menyusahkan. Betapa banyak orang-orang yang merasa dirinya tidak
bahagia. Malangnya, keadaan tidak bahagia ini akan membuat jiwa merasa
tertekan, akhirnya stress. Penderitaan yang diakibatkan stress disebut dengan
distress. Kondisi-kondisi yang membuat jiwa merasa tertekan, tidak bebas dari
hal-hal yang menyusahkan lama-lama akan menimbulkan berbagai macam penyakit
pada fisik. Bahkan, jika seseorang sudah tidak mampu lagi menangani jiwanya
yang terus merasa tertekan akan berujung pada sebuah penderitaan mental yang
disebut dengan depresi.
Menurut
Drs. Mas Rahim Salaby dalam buku berjudul “Mengatasi Kegoncangan Jiwa” tidak
satu pun manusia terlepas dari tekanan, perasaan tidak bahagia, tetapi tidak
semua yang terkena stress tergoncang jiwanya, dan tidak semua yang tergoncang
jiwanya menderita tekanan (distress) atau penderitaan yang lebih parah lagi
yaitu depresi.
Lebih
lanjut lagi beliau menuliskan bahwa ada dua jenis penderitaan yang dialami oleh
orang-orang yang mengalami distress, pertama dampak tekanan yang muncul keluar
dan menimbulkan berbagai macam penyakit pada tubuh yang disebut psychosomatic. Kedua, dampak tekanan
yang dipendam di dalam jiwa, yang disebut psychose
(psikosis).
Dampak
pertama muncul karena badan rohani manusia memilik kekuatan untuk melawannya,
sehingga tekanan yang terus menerpa seseorang tidak menggoncangkan jiwanya
tetapi meluap keluar sebagai wujud penyakit, seperti maag, eksim, dan
hipertensi. Dampak yang kedua, jika tekanan sudah tidak mampu lagi
ditanggulangi oleh jiwa sehingga menyebabkan jiwanya tergoncang maka terjadilah
apa yang biasa kita sebut dengan sakit jiwa.
Sampai
di sini, sungguh bahwa begitu banyak hal yang terus akan menimpa manusia. Bahagia
tidaknya seseorang sebenarnya hanya persoalan pilihan. Mengapa? Bahagia itu
subjektif, masing-masing orang memiliki definisi sendiri tentang apa yang
membuatnya bahagia. Ingatlah selalu, bahwa dari rentetan berbagai ujian,
sesungguhnya Allah hendak menguji hambanya “apakah kamu mengira bahwa kamu akan
masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan, ujian hidup) sebagaimana
telah berlaku kepada umat terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan
kesengsaraan serta digoncangkan dengan berbagai cobaan, sehingga Rasul dan
orang-orang yang beriman bersamanya berkata “kapankah datang pertolongan Allah?”
Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat” (Al-Baqarah: 214).
Berbahagialah.
Apa pun bentuknya. Kebahagiaan seperti sebuah papan puzzle, dimana mozaik-mozaiknya berserakan. Masing-masing orang
memiliki kepingannya tersendiri. Sama halnya dengan bahagia. Tiap-tiap kita
memiliki definisi bahagia sendiri. Walaupun berbeda bentuknya, itu adalah
kebahagiaan. Berbahagialah!
Pilihlah
untuk tetap bersyukur atas apapun ketentuan Allah hingga jiwa kita terus-menerus
merasa damai dan bahagia.
Makassar, 18 Desember 2013
(Catatan ini didedikasikan untuk orang-orang yang memilih terus hidup bahagia)