Sabtu, 13 Juli 2013

Alarm

Alarm…
Alarm adalah tanda peringatan
Alarm, nada yang selalu saya dengar di subuh buta, ketika semua penghuni pondokan masih terlelap.
Alarm adalah pesan bijak seorang laki-laki kepala tiga yang menjadi kepala ruangan Perawatan Bedah RS Salewangang Maros, beliau adalah laki-laki sederhana. Pak Marzuki, S. Kep, Ns. Demikian nama lengkap beserta titel beliau.
Kompleksitas yang beliau miliki adalah kumpulan ilmu-ilmu yang beliau telaah dari berbagai kajian.
“Hiduplah dengan indah”
Seketika saya tertunduk, terpekur umpama seorang narapidana yang mulai tersadar atas kelakuan salah yang telah dilakukannya. Seketika saya mematung, titik keributan turun nol derajat selsius, beku.
Ada apa dengan sensor dalam tubuh saya?
Tiba-tiba akhir-akhir ini menjadi sangat tidak peka dengan hal-hal yang sedari awal telah saya rumuskan dengan sangat rapi dan penuh pertimbangan. Kemalasan yang mendera saya membuat saya enggan melakukan hal-hal penting untuk cepat-cepat menyelesaikan studi.
“jika ada liburan, maka pulanglah. Orang tua pasti merindukan kalian. Orang tua tak minta dibawakan apa-apa, cukup senyum kalian saja. Orang tua bebannya sudah berat, jangan ditambah lagi. Biarlah mereka menanggung beban biaya kuliah kalian, asal jangan beban malu. Beban keuangan bisa diperjuangkan, tapi beban malu, sangat sulit untuk disembuhkan. Menyelesaikan studi dengan lama-lama itu sedikit banyak membuat malu, belajarlah dengan baik”
Saya berubah menjadi trembesi di musim penghujan: dari luar sangat tegak, tapi sebenarnya saya telah kedinginan.
***
Tak dipungkiri, melakukan pekerjaan dengan ritme yang hampir sama setiap harinya membuat saya jenuh, bahkan saya pernah berada pada titik paling tinggi, sebuah titik yang menandakan bahwa mungkin akan sangat susah untuk mengembalikan semangat untuk belajar.
Yang saya rasakan, praktek lahan seolah-olah hanya menitikberatkan pada penugasan. Laporan pendahuluan juga askep (Asuhan Keperawatan) yang segera harus dirampungkan tiap minggunya. Setiap hari yang dipikirkan adalah “sudahkah Askep saya selesai"?.
Saya sendiri menyadari pendokumentasian itu sangat penting. Bahkan wajib ada untuk setiap tindakan keperawatan yang akan dan telah dilakukan.
Tapi entah mengapa, saya merasa seperti  dikejar-kejar deadline pengumpulan. Saya kehilangan makna belajar dari pengalaman, saya kehilangan makna filosofi tangan yang mengatakan bahwa sesering apa sebuah benda kita sentuh, maka kemungkinan benda itu takluk di tangan kita akan semakin besar pula. Praktek bagi saya adalah latihan olah keterampilan. Praktek adalah latihan olah rasa peka, pelatihan pandai berempati.
Praktek bagi saya adalah mengolah mother insting, melihat bayi-bayi mungil juga anak-anak yang kesakitan sedikit banyak melatih menjadi peka dengan keadaan mereka, melatih berbicara ala bayi dan balita. Kehilangan itu tak lain karena saya berfokus pada tugas yang harus saya kumpulkan.
Diam-diam saya ingin membuat soft wear, semacam program khusus untuk perawat, jadi mereka akan dimudahkan dalam pendokumentasian keperawatan.
***
Aliran kata demi kata terlahir dari lisannya. saya hangat. Semangat saya kembali menghangat. Mungkin selama ini saya merindukan nasehat demikian. Mungkin selama ini saya kehilangan definisi “membahagiakan”.
Maka di departemen Manajemen Keperawatan ini saya akan memberikan yang terbaik dari diri saya, saya akan menyusun Analisis SWOT juga POA dengan sebaik-baiknya, saya sadar saya masih butuh banyak belajar. Setidaknya, alarm dari pak Marzuki telah mengetuk sebuah pintu dari hati saya, pintu tempat saya berhibernasi.
Saatnya bangkit.
 _Emy Gufarni_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar