Alarm…
Alarm
adalah tanda peringatan
Alarm,
nada yang selalu saya dengar di subuh buta, ketika semua penghuni pondokan
masih terlelap.
Alarm
adalah pesan bijak seorang laki-laki kepala tiga yang menjadi kepala ruangan Perawatan
Bedah RS Salewangang Maros, beliau adalah laki-laki sederhana. Pak Marzuki, S.
Kep, Ns. Demikian nama lengkap beserta titel beliau.
Kompleksitas
yang beliau miliki adalah kumpulan ilmu-ilmu yang beliau telaah dari berbagai
kajian.
“Hiduplah dengan indah”
Seketika
saya tertunduk, terpekur umpama seorang narapidana yang mulai tersadar atas
kelakuan salah yang telah dilakukannya. Seketika saya mematung, titik keributan
turun nol derajat selsius, beku.
Ada apa dengan sensor
dalam tubuh saya?
Tiba-tiba
akhir-akhir ini menjadi sangat tidak peka dengan hal-hal yang sedari awal telah
saya rumuskan dengan sangat rapi dan penuh pertimbangan. Kemalasan yang mendera
saya membuat saya enggan melakukan hal-hal penting untuk cepat-cepat
menyelesaikan studi.
“jika
ada liburan, maka pulanglah. Orang tua pasti merindukan kalian. Orang tua tak
minta dibawakan apa-apa, cukup senyum kalian saja. Orang tua bebannya sudah
berat, jangan ditambah lagi. Biarlah mereka menanggung beban biaya kuliah
kalian, asal jangan beban malu. Beban keuangan bisa diperjuangkan, tapi beban
malu, sangat sulit untuk disembuhkan. Menyelesaikan studi dengan lama-lama itu
sedikit banyak membuat malu, belajarlah dengan baik”
Saya
berubah menjadi trembesi di musim penghujan: dari luar sangat tegak, tapi
sebenarnya saya telah kedinginan.
***
Tak
dipungkiri, melakukan pekerjaan dengan ritme yang hampir sama setiap harinya
membuat saya jenuh, bahkan saya pernah berada pada titik paling tinggi, sebuah
titik yang menandakan bahwa mungkin akan sangat susah untuk mengembalikan
semangat untuk belajar.
Yang
saya rasakan, praktek lahan seolah-olah hanya menitikberatkan pada penugasan.
Laporan pendahuluan juga askep (Asuhan Keperawatan) yang segera harus
dirampungkan tiap minggunya. Setiap hari yang dipikirkan adalah “sudahkah Askep
saya selesai"?.
Saya
sendiri menyadari pendokumentasian itu sangat penting. Bahkan wajib ada untuk
setiap tindakan keperawatan yang akan dan telah dilakukan.
Tapi
entah mengapa, saya merasa seperti
dikejar-kejar deadline pengumpulan.
Saya kehilangan makna belajar dari pengalaman, saya kehilangan makna filosofi
tangan yang mengatakan bahwa sesering apa sebuah benda kita sentuh, maka
kemungkinan benda itu takluk di tangan kita akan semakin besar pula. Praktek
bagi saya adalah latihan olah keterampilan. Praktek adalah latihan olah rasa
peka, pelatihan pandai berempati.
Praktek
bagi saya adalah mengolah mother insting,
melihat bayi-bayi mungil juga anak-anak yang kesakitan sedikit banyak melatih
menjadi peka dengan keadaan mereka, melatih berbicara ala bayi dan balita. Kehilangan
itu tak lain karena saya berfokus pada tugas yang harus saya kumpulkan.
Diam-diam
saya ingin membuat soft wear, semacam
program khusus untuk perawat, jadi mereka akan dimudahkan dalam
pendokumentasian keperawatan.
***
Aliran
kata demi kata terlahir dari lisannya. saya hangat. Semangat saya kembali menghangat.
Mungkin selama ini saya merindukan nasehat demikian. Mungkin selama ini saya
kehilangan definisi “membahagiakan”.
Maka
di departemen Manajemen Keperawatan ini saya akan memberikan yang terbaik dari
diri saya, saya akan menyusun Analisis SWOT juga POA dengan sebaik-baiknya,
saya sadar saya masih butuh banyak belajar. Setidaknya, alarm dari pak Marzuki telah mengetuk sebuah pintu dari hati saya, pintu
tempat saya berhibernasi.
Saatnya bangkit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar