Sore
yang gerimis, saya keluar dari kamar setelah menemui seorang “partner kerja baru” utusan sang pengeja
salju. Tujuannya hanya satu, membeli panganan berbuka puasa.
Sampai
di warung es buah, saya memilih es
favorit saya, es melon serut. Kerongkongan yang seharian tek terlewati sepercik
air pasti sangat menikmati dinginnya es melon serut dengan cita rasa yang
segar.
Setelah
membayar, saya berniat meninggalkan warung tersebut, tak ada lagi kebutuhan
yang mengharuskan berlama-lama. Tiba-tiba, sejurus pandangan saya menangkap dua
sosok mungil tepat di depan sebuah warung yang menjual aneka barang kebutuhan
mahasiswa. Masing-masing keduanya terlihat menenteng sekarung gelas air minum
mineral bekas yang berhasil mereka kumpulkan.
Lama
mata saya mengamati keduanya.
Akhirnya
saya memutuskan untuk menambah dua gelas es melon serut. Mungkin mereka juga
sedang berpuasa. Tak lama, es melon serut sudah terbungkus rapi dalam kresek
kecil berwarna bening.
Segera
saya menghampiri keduanya. Melihat saya menuju mereka, wanita mungil itu
kebingungan, malu-malu, juga tersenyum simpul. Matanya tersenyum. Indah sekali.
Senyuman polos dari seorang wanita mungil, pemulung.
Saya
mengajaknya kenalan. “Hai…kalian sedang apa? Kok gak puasa?”, mendengar
pertanyaan saya yang bertubi-tubi, sang wanita mungil hanya membalas dengan
senyuman sambil sesekali mencicipi cemilan di tanganya. Laki-laki yang juga
mungil di sampingnya hanya menatap pelan karung minuman gelas. Saya menyodorkan
dua gelas es melon serut.” Nih..buat kalian, oh ya….nama kamu siapa”?, ia hanya
tersenyum.Seperti tak ingin mengeluarkan kata-kata. “hei….nama kamu siapa”?,
kembali saya bertanya perihal namanya.
Ah,
anak-anak ini basah kuyup karena hujan baru saja berganti dengan gerimis,
membasahi pakaian mereka.
***
Kemarilah dek, izinkan aku memeluk
hatimu, biar hangat, sejenak saja. Seperti kak Andis menghangatkanmu dengan
sebuah pelukan saat ia bermalam di gubuk
mungilmu.
Lama
ia mengemas kata, tapi senyuman di binar matanya hampir bisa memberi begitu
banyak petunjuk untuk mereka-reka sebuah nama.
Hampir
bisa kutebak.
Inikah
ia? Wanita mungil yang dewasa sebelum waktunya?
Seketika
saya tertegun pelan menyimak sebait nama yang ia lahirkan “ Febi”. Nama saya
Febi.
Saya
merinding.
Tiba-tiba
saja mata ikut bergerimis bersama sore tanpa jingga matahari.
Anak
mungil ini kebasahan setelah menerobos hujan mencari plastik bekas yang hanya
dihargai Rp3000/kg-nya.
Apa
yang akan dikatakan oleh seorang ibu Ani Yudoyono melihat pemandangan ini? Apakah
ia akan menghadiahinya nobel sebagai bentuk penghargaan karena ia telah
mengasihani sekaligus menghidupi seorang anak manusia yang tak lain adalah
adiknya? 6 tahun, sepertinya jauh lebih
cocok dilekatkan pada umurnya yang 4 tahun lebih tua, 10 tahun. Gadis mungil
itu berumur 10 tahun, tapi tahukah kamu, tubuhnya jauh lebih cocok dikatakan
bahwa dia masih berumur 6 tahun. Umur ternyata tidak menjadikannya mutlak
sebagai seorang anak-anak. Ia memang
masih belia, tapi hati juga pikirannya boleh jadi jauh lebih dewasa dari saya
yang secara fisik dan umur melebihi dari dirinya.
Tangannya
yang sangat mungil telah mampu mencuci juga memenuhi kebutuhan adiknya. Orang tuanya
telah jauh meninggalkan mereka berdua. Jadi untuk berlindung dari kedinginan
dan kepanasan, mereka menumpang di rumah tante mereka.
Mereka
harus mengumpulkan banyak plastik untuk ditimbang. Uang yang mereka peroleh
diserahkan kepada sang tante.
Ah…anak
kecil ini, jauh lebih kecil juga ringkih daripada sebuah foto dengan paras yang
sama yang terpampang di beranda seorang sahabat sekaligus kakak angkat mereka
berdua. Anak kecil ini jauh lebih indah senyumnya dari seorang miss universe…
Andis, saya ternyata dipertemukan
dengan wanita mungilmu, yang selalu kau ceritakan di malam-malam ketika kita
sedang bersama. Sosok kecil itu ternyata jauh lebih elok parasnya, jauh lebih
indah senyum di matanya, dan tahukah kau Andis, saya ingin mencintainya
layaknya kau mencintai mereka.
Diam-diam,
dengan sangat diam-diam, saya ingin kembali dipertemukan dengan pejuang belia
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar