Kamis, 18 Juli 2013

Pejuang Belia

Sore yang gerimis, saya keluar dari kamar setelah menemui seorang “partner kerja baru” utusan sang pengeja salju. Tujuannya hanya satu, membeli panganan berbuka puasa.
Sampai di warung es  buah, saya memilih es favorit saya, es melon serut. Kerongkongan yang seharian tek terlewati sepercik air pasti sangat menikmati dinginnya es melon serut dengan cita rasa yang segar.
Setelah membayar, saya berniat meninggalkan warung tersebut, tak ada lagi kebutuhan yang mengharuskan berlama-lama. Tiba-tiba, sejurus pandangan saya menangkap dua sosok mungil tepat di depan sebuah warung yang menjual aneka barang kebutuhan mahasiswa. Masing-masing keduanya terlihat menenteng sekarung gelas air minum mineral bekas yang berhasil mereka kumpulkan.
Lama mata saya mengamati keduanya.
Akhirnya saya memutuskan untuk menambah dua gelas es melon serut. Mungkin mereka juga sedang berpuasa. Tak lama, es melon serut sudah terbungkus rapi dalam kresek kecil berwarna bening.
Segera saya menghampiri keduanya. Melihat saya menuju mereka, wanita mungil itu kebingungan, malu-malu, juga tersenyum simpul. Matanya tersenyum. Indah sekali. Senyuman polos dari seorang wanita mungil, pemulung.
Saya mengajaknya kenalan. “Hai…kalian sedang apa? Kok gak puasa?”, mendengar pertanyaan saya yang bertubi-tubi, sang wanita mungil hanya membalas dengan senyuman sambil sesekali mencicipi cemilan di tanganya. Laki-laki yang juga mungil di sampingnya hanya menatap pelan karung minuman gelas. Saya menyodorkan dua gelas es melon serut.” Nih..buat kalian, oh ya….nama kamu siapa”?, ia hanya tersenyum.Seperti tak ingin mengeluarkan kata-kata. “hei….nama kamu siapa”?, kembali saya bertanya perihal namanya.
Ah, anak-anak ini basah kuyup karena hujan baru saja berganti dengan gerimis, membasahi pakaian mereka.
***
Kemarilah dek, izinkan aku memeluk hatimu, biar hangat, sejenak saja. Seperti kak Andis menghangatkanmu dengan sebuah  pelukan saat ia bermalam di gubuk mungilmu.
Lama ia mengemas kata, tapi senyuman di binar matanya hampir bisa memberi begitu banyak petunjuk untuk mereka-reka sebuah nama.
Hampir bisa kutebak.
Inikah ia? Wanita mungil yang dewasa sebelum waktunya?
Seketika saya tertegun pelan menyimak sebait nama yang ia lahirkan “ Febi”. Nama saya Febi.
Saya merinding.
Tiba-tiba saja mata ikut bergerimis bersama sore tanpa jingga matahari.
Anak mungil ini kebasahan setelah menerobos hujan mencari plastik bekas yang hanya dihargai Rp3000/kg-nya.
Apa yang akan dikatakan oleh seorang ibu Ani Yudoyono melihat pemandangan ini? Apakah ia akan menghadiahinya nobel sebagai bentuk penghargaan karena ia telah mengasihani sekaligus menghidupi seorang anak manusia yang tak lain adalah adiknya?  6 tahun, sepertinya jauh lebih cocok dilekatkan pada umurnya yang 4 tahun lebih tua, 10 tahun. Gadis mungil itu berumur 10 tahun, tapi tahukah kamu, tubuhnya jauh lebih cocok dikatakan bahwa dia masih berumur 6 tahun. Umur ternyata tidak menjadikannya mutlak sebagai  seorang anak-anak. Ia memang masih belia, tapi hati juga pikirannya boleh jadi jauh lebih dewasa dari saya yang secara fisik dan umur melebihi dari dirinya.
Tangannya yang sangat mungil telah mampu mencuci juga memenuhi kebutuhan adiknya. Orang tuanya telah jauh meninggalkan mereka berdua. Jadi untuk berlindung dari kedinginan dan kepanasan, mereka menumpang di rumah tante mereka.
Mereka harus mengumpulkan banyak plastik untuk ditimbang. Uang yang mereka peroleh diserahkan kepada sang tante.
Ah…anak kecil ini, jauh lebih kecil juga ringkih daripada sebuah foto dengan paras yang sama yang terpampang di beranda seorang sahabat sekaligus kakak angkat mereka berdua. Anak kecil ini jauh lebih indah senyumnya dari seorang miss universe…
Andis, saya ternyata dipertemukan dengan wanita mungilmu, yang selalu kau ceritakan di malam-malam ketika kita sedang bersama. Sosok kecil itu ternyata jauh lebih elok parasnya, jauh lebih indah senyum di matanya, dan tahukah kau Andis, saya ingin mencintainya layaknya kau mencintai mereka.
Diam-diam, dengan sangat diam-diam, saya ingin kembali dipertemukan dengan pejuang belia itu.
_Emy Gufarni_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar