Kamu selalu mengabarkan kebenaran : “mereka menderita penyakit akut kak”
Aku
terhenyak.
Hei…penyakit
apa gerangan yang menggerogoti tubuh mungil itu?
Apakah
virus juga bakteri sudah meminta izin perihal kedatangan mereka menggempur bala
tentara di tubuhnya?
Seharusnya
aku tahu, virus atau pun bakteri, bahkan ketika berubah menjadi makhluk paling
menakutkan mereka tidak pernah berucap permisi.
Aku
kian takut.
Ah,
kau mungkin sedang salah kata dek, tidak mungkin mereka separah itu.
Kau
menguntaikan kalimat lagi “penyakit akut itu, sebuah penyakit di luar kendali
mereka”
Iya,
tapi apa?
Aku
mulai mendesak.
“memori
mereka akan merakam kuat orang-orang yang pernah berbuat baik pada mereka”
“Dek,
itu bukan penyakit”. Bantahku.
Aku
pun masih mengingat siapa-siapa yang pernah membuat aku tersenyum sangat manis.
Semenit
kau diam.
“Mereka
akan mengingatmu kak Em…”
***
Rian
datang lagi dek, dia bahkan mengajak beberapa orang temannya.
Menyenangkan
sekali melihat lambaian tangan mereka.
Mereka
mengetuk kamarku dek, saat aku menikmati santapan berbuka. Aku segera
membukakan pintu.
Sapaannya
sangat cempreng “kak Emy…”.
Kubuka
pintu kayu lapuk bercat biru, sederetan anak-anak berdiri sambil memamer senyum
padaku. "Siapa"?
"Ini
Rian…."
"Rian"?
Aku
kebingungan.
Aku
lupa andis.
Ah,
aku ini sangat pelupa.
Padahal
baru kemarin bersapa di rintik hujan yang romantis.
Dek….dia
datang lagi.
Benar
katamu, memori mereka merekam dengan sangat kuat orang-orang baik dalam hidup
mereka.
Adek,
apa aku ini cukup baik?
Jika
demikian, aku ingin bertanya…
“apakah
mengorbankan diri sendiri demi membuat orang lain senang itu masuk dalam “asas kebermanfaatan”?
Jika
demikian, apa lagi yang aku punya dek?
Akan
aku serahkan sebelum aku mati.
_Emy Gufarni_
kata seorang teman, kita tidak boleh mendzalimi diri sendiri untuk membahagiakan orang lain. Begitu kak Em, katanya.
BalasHapusAku juga bingung Kak. Tapi kalau menurutku, barangkali, jika melakukan itu membuatmu bahagia dan orang pun merasakan bahagia yang sama, lakukanlah Kak.