Selasa, 31 Desember 2013

Hujan Kembang Api





Di kotaku, Makassar, hujan kembang api
Semua orang bersuka cita
Makanan-makanan dihidangkan
Api-api unggun dinyalakan
Romie dan Juliet abad baru berpelukan
Yah, aku tahu
Malam ini adalah perayaan
Penyembahan  Pagan
Tapi kami alpa, ikut-ikutan

Di kotamu, Suriah, hujan kembang api
Semua orang berlari berhamburan
Bersembunyi di bilik-bilik tembok reruntuhan
Tak ada makanan dihidangkan
Api-api unggun dinyalakan
Agar anggota keluarga tak kedinginan
Pejuang-pejuang  menjujung persenjataan
Di punggung-punggung penderitaan
Yah, aku tahu
Malam ini adalah perayaan
Sebuah kesyahidan

1 januari 2014

Catatan ini, melalui labirin pemikiran keruh semalam. Bekas-bekas yang tertinggal dari hujan kembang api.

Temani Aku



Pada pepuisiku, semoga nafasmu tetap hidup
Hingga laut, angin, juga jaket parasut merah bata
Menjadi latar saat mata matahari berkedip memulai malam


Makassar, Penghujung Desember 2013

Diam di Kediaman (Untuk Azure dan seorang Gadis Pengeja)



selalu saja palu gada memukul-mukul kepalaku
menumpahkan banjir yang tertahan di kelopak mataku
biji bola mataku pecah,
kulahirkan senyum dalam senyap dari rahim kediamanku

kepada Azure,
aku tertawa saat kau kata
bahwa senyuman lebih kau utamakan dari jiwa saat kau sekarat
itu tidak benar, Az!
kau tahu?
jika kau sekarat, selamatkan jiwamu
ya, sebab mana mungkin engkau masih mampu menyungging senyum saat jiwa rapuh?
senyuman terlahir hanya dari jiwa  lapang mencipta sketsa pada bagian terbawah wajah
dan itu adalah senyuman

diam adalah keindahan, Az!
kau tahu, mengapa kukata demikian?
sebab, seseorang hanya mampu melihat kau baik-baik saja
sedang senyummu tetap menggelayut meski perih kau lipat rapat

bila sepi telah sempurna merajam menghentak perih
lahirkan saja senyum dari sudut-sudut bibir
sebab tak perlu banyak diksi  terlahir lewat tenggorokan yang menjepit pita suara
diamlah di kediaman
dan kediaman itu : jiwamu!

kepada seorang gadis pengeja,
setia, terkadang pekerjaan yang sia-sia
ya, yakin kita tak pernah ada sesuatu yang salah tempat
aku masih menyimpan serumpun temali kenangan setia
sempat kita urai dari rajutanku kemarin
aku menertawainya
masih lagi sepi, kugenggam lalu kugulung kuat
tak ada lagi tempat untuk setia yang sia-sia

 Makassar, Penghujang Desember 2013

Kita masih saja menerima mentah-mentah perkataan-perkataan. Bukankah kita punya kepala?


Selasa, 24 Desember 2013

Pada Bagian Mana Dari Diriku yang Kau Ingat?

Adalah senar gitar yang alunannya menebalkan sisi otakmu.
Itukah yang kau ingat dariku, kawan? 
Entah, apalagi yang bisa membuatmu ingat akan diri yang nista.
Ah...mulia sekali hatimu, perempuan, yang menghabiskan sebagian waktu muda untuk mencerdaskan bangs
a. 

Aku tahu, itu adalah caramu merawat Indonesia. 
Teriring doa setangkup tangan. 
Semoga Allah membersamai perempuan semulia dirimu.
Doakan aku, semoga selamanya aku berada pada jalan Tuhan, jalan kebenaran


 Makassar, 25 Desember 2013

Tulisan ini, untuk dua sahabat saya yang telah memilih mengabdikan diri menjadi seorang guru

Untukmu, Guru



 Ah, aku masih saja menggoda sesuatu dalam otakku. Sesuatu yang harus aku kantongi dalam sebuah amplop, sesuatu yang tidak pernah hilang, sesuatu yang dengannya aku pernah melambung dan melayang jauh dari pijakan di bumi. Sesuatu itu, adalah kau yang masih saja membuat aku bangga pernah menjadi sahabatmu.
Apa kabarmu, guru? Senyummu ternyata masih saja seperti pertama kali kita bertemu. Saat matahari meninggi dan membuatku silau. Saat itu, kau menghalangiku dari panas yang mulai menampar pipiku. Siang ternyata masih saja menjadi latar dalam setiap abdimu. Engkaukah, disana? yang menghembususapkan semangat pada ubun-ubunku. Kulihat, keberanian telah membawamu jauh, jauh lebih indah dari sosok peri-peri yang selalu kita tonton semasa kanak dahulu.

Makassar, 24 Desember 2013

Tulisan ini, saya persembahkan untuk sahabat-sahabat saya yang memilih mengabdikan seluruh potensi diri untuk mencerdaskan bangsa

Minggu, 22 Desember 2013

Nasehat Untuk Jiwa

Pagi yang hujannya masih memeluk gigil
Tetaplah hidup semangat dalam jiwaku
Jikapun suatu hari harus berteman lelah
Rebahkan saja penatmu
Pada kertas putih

Kiranya engkau sudi untuk belajar
Mengejakan kata-kata
Mendiktekan suara-suara
Bilakah tak terdengar
Cukup aminkan dalam diam:
Jiwa, tempat ia mula bersemayam



_Emy Gufarni_
Makassar, 23 Desember 2013

Tulisan ini terlahir saat hujan benar-benar khusyuk bertasbih, sepanjang hari

Rabu, 18 Desember 2013

Pilihlah Bahagia

Apa itu bahagia?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahagia adalah suatu keadaan tentram dan bebas dari segala yang menyusahkan. Beberapa  tokoh mendefinisikan bahagia adalah sebagai berikut:
Happiness is when what you think what you say, and what you domare in harmony.
-Mahatma Gandhi-
Happiness is something that you are and it comes from the way you think.
-Wayne Dyer-
Happiness is the meaning and the purpose of life, the whole aim and end of human existence.
-Aristoteles-

Dari pengertian di atas, jelas bahwa bahagia adalah suatu keadaan. Tung Dasem Waringin memberikan pengertian yang berbeda tentang apa itu bahagia. Menurutnya bahagia adalah cara kita menafsirkan hidup dan hal-hal yang ada di dunia. Karena bahagia adalah cara kita menafsirkan hidup kita, maka bahagia tidak tergantung dari sekitar kita. Ini adalah bahagia tanpa syarat.

Islam sendiri memandang bahwa bahagia adalah tatkala seorang manusia mampu mensyukuri apa yang telah direzkikan Tuhan padanya. Saya teringat sebuah hadist, “Sungguh baik keadaan seorang muslim, jika dia diberikan rezki maka dia bersyukur dan jika ia diuji maka dia bersabar”, kira-kira seperti itu kalimatnya.  Dari hadist tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa bahagia itu adalah sesuatu yang bersyarat. Kita bahagia jika telah mampu mensyukuri apa-apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Maka sebelum rasa syukur itu hadir, boleh jadi kita belum seutuhnya bahagia. Rasa syukur seringkali dikorelasikan dengan ikhlas. Bukan saja ikhlas melakukan dan memberi tapi juga ikhlas menerima. Saya rasa, saat kita mengerjakan sesuatu dengan ikhlas, dengan segenap ketulusan, maka kita akan bahagia. Apakah ketika kita mengerjakan sesuatu tanpa ketulusan (terpaksa) akan bahagia? 

Ternyata, ada sebagian ahli yang mengatakan bahwa untuk bahagia, kita membutuhkan sebuah “gen bahagia” dari keturunan kita sebelumnya. Orang-orang yang memiliki orangtua, nenek, kakek, atau buyut yang  mudah berbahagia, maka dia cenderung untuk mudah juga berbahagia. Entahlah, apakah hal tersebut berhubungan dengan pola asuh, atau yang lain? Saat orang tua kita mengatakan  “kerjakanlah sesuatu dengan penuh ketulusan dan tanpa keterpakasaan”,maka  itu adalah bahagia.

Tapi sayang, jika menganggap bahwa bahagia adalah kepuasan dari  sesuatu yang bersyarat, maka bahagia itu tidak abadi. Mengapa? Karena manusia itu tidak memiliki titik jenuh kepuasan. Manusia tidak pernah merasa puas.  jika uang adalah salah satu sumber kebahagiaan, maka ketika uang sudah tidak mampu lagi membeli kebahagian lantaran kita telah memiliki semuanya, maka masihkah kita akan mengatakan bahwa kita bahagia?

Kembali pada pengertian bahagia menurut KBBI bahwa bahagia adalah keadaan bebas dari hal-hal yang menyusahkan. Betapa banyak orang-orang yang merasa dirinya tidak bahagia. Malangnya, keadaan tidak bahagia ini akan membuat jiwa merasa tertekan, akhirnya stress. Penderitaan yang diakibatkan stress disebut dengan distress. Kondisi-kondisi yang membuat jiwa merasa tertekan, tidak bebas dari hal-hal yang menyusahkan lama-lama akan menimbulkan berbagai macam penyakit pada fisik. Bahkan, jika seseorang sudah tidak mampu lagi menangani jiwanya yang terus merasa tertekan akan berujung pada sebuah penderitaan mental yang disebut dengan depresi.

Menurut Drs. Mas Rahim Salaby dalam buku berjudul “Mengatasi Kegoncangan Jiwa” tidak satu pun manusia terlepas dari tekanan, perasaan tidak bahagia, tetapi tidak semua yang terkena stress tergoncang jiwanya, dan tidak semua yang tergoncang jiwanya menderita tekanan (distress) atau penderitaan yang lebih parah lagi yaitu depresi. 

Lebih lanjut lagi beliau menuliskan bahwa ada dua jenis penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang mengalami distress, pertama dampak tekanan yang muncul keluar dan menimbulkan berbagai macam penyakit pada tubuh yang disebut psychosomatic. Kedua, dampak tekanan yang dipendam di dalam jiwa, yang disebut psychose (psikosis).

Dampak pertama muncul karena badan rohani manusia memilik kekuatan untuk melawannya, sehingga tekanan yang terus menerpa seseorang tidak menggoncangkan jiwanya tetapi meluap keluar sebagai wujud penyakit, seperti maag, eksim, dan hipertensi. Dampak yang kedua, jika tekanan sudah tidak mampu lagi ditanggulangi oleh jiwa sehingga menyebabkan jiwanya tergoncang maka terjadilah apa yang biasa kita sebut dengan sakit jiwa.

Sampai di sini, sungguh bahwa begitu banyak hal yang terus akan menimpa manusia. Bahagia tidaknya seseorang sebenarnya hanya persoalan pilihan. Mengapa? Bahagia itu subjektif, masing-masing orang memiliki definisi sendiri tentang apa yang membuatnya bahagia. Ingatlah selalu, bahwa dari rentetan berbagai ujian, sesungguhnya Allah hendak menguji hambanya “apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan, ujian hidup) sebagaimana telah berlaku kepada umat terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan dengan berbagai cobaan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata “kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat” (Al-Baqarah: 214).

Berbahagialah. Apa pun bentuknya. Kebahagiaan seperti sebuah papan puzzle, dimana mozaik-mozaiknya berserakan. Masing-masing orang memiliki kepingannya tersendiri. Sama halnya dengan bahagia. Tiap-tiap kita memiliki definisi bahagia sendiri. Walaupun berbeda bentuknya, itu adalah kebahagiaan. Berbahagialah!
Pilihlah untuk tetap bersyukur atas apapun ketentuan Allah hingga jiwa kita terus-menerus merasa damai dan bahagia.

Makassar, 18 Desember 2013
(Catatan ini didedikasikan untuk orang-orang yang memilih terus hidup bahagia)